Jumat, 18 Okt 2019 16:30 WIB

Kisah Ashrul, Dosen Tuna Rungu Nyambi GoSend Ajarkan Mitra Bahasa Isyarat

Adinda Purnama Rachmani - detikInet
Foto: Adinda Purnama Rachmani Foto: Adinda Purnama Rachmani
Jakarta - Dalam rangka memberikan apresiasi kepada mitra Gojek disabilitas, Gojek bersama Komunitas Elite Squad Fighter (ESF) mengadakan pelatihan bahasa isyarat untuk mitranya. Acara tersebut dilaksanakan di Kawasan Cinere, Depok, Jawa Barat yang dihadiri oleh 150 mitra Gojek se-Jabodetabek.

Salah satu mitra GoSend sekaligus anggota ESF, Ashrul (50) menjadi pelatih dalam kegiatan tersebut. Untuk diketahui, Ashrul juga merupakan salah satu mitra yang menyandang tunarungu. Ia pun menceritakan tentang pengalamannya selama satu tahun menjadi mitra GoSend.

Bapak dari tiga anak itu bercerita awal mula ia ingin menjadi mitra GoSend, karena mengetahui dari rekannya jika Gojek menerima teman disabilitas untuk bergabung menjadi bagian mitranya. Lantas, ia pun mendaftarkan diri di 2018 untuk menjadi bagian dari GoSend.


"Saya tahu ada pembukaan mitra Gojek untuk disabilitas dari kawan saya. Saya bilang mau daftar dan memilih untuk menjadi mitra GoSend. Saya memilih layanan itu karena memudahkan saya untuk berkomunikasi dengan customer. Selain itu, saya juga mengetahui bahwa menjadi mitra Gojek disabilitas juga mendapatkan kesetaraan dari pihak Gojek," ucap Ashrul di sela-sela acara pelatihan bahasa isyarat di Depok, Jumat (18/10/2019).

Ashrul pun mempraktekan cara dirinya melayani kiriman paket dari customer. Sebelum mengambil paket, ia memberitahu kepada customer bahwa dirinya tuli, walaupun dalam profil aplikasi sudah tertera mitra tersebut adalah penyandang disabilitas.

Ashrul juga menceritakan suka dan dukanya bekerja menjadi mitra GoSend. Terkadang, ia memiliki kesulitan untuk menghubungi customer yang tidak merespons pesan singkat yang terdapat di aplikasi. Lantas, ia pun meminta tolong kepada mitra gojek yang sedang melintas atau meminta bantuan orang lain.

"Kesulitannya jika customer tidak bisa dihubungi, tidak menjawab pesan saya. Jadi saya harus pergi mencari rekan Gojek atau orang untuk menghubungi customer tersebut. Saya bilang, maaf saya tuli bisa hubungi customer saya, bilang jika saya tuli dan alamat yang tertera apakah sudah benar dan meminta patokannya, jika sudah mengetahui jawabannya baru saya mengantarkan paket tersebut," ucapnya.

Selain menjadi mitra GoSend, dalam kesehariannya Ashrul juga bekerja sebagai dosen bahasa isyarat di Universitas Indonesia. Ia memilih bergabung untuk menjadi mitra GoSend untuk mencari tambahan pendapatan untuk keluarganya.

Ashrul pun merasa bersyukur setelah bergabung menjadi mitra karena bisa mendapatkan teman baru, dan dapat mengajarkan bahasa isyarat kepada rekan mitra lainnya.

"Saya ikut Gojek untuk menambah biaya sehari-hari keluarga. Saya juga senang karena selain mendapatkan rekan mitra yang baru, saya juga dapat mengajarkan bahasa isyarat kepada teman Gojek lainnya," ucap Ashrul.


Selanjutnya, ia pun menceritakan lebih lanjut mengenai komunitas ESF adalah pengantar barang dari kelompok tuli. Nama tersebut diambil karena pihaknya memiliki kinerja yang baik di GoSend dan GoKilat. Anggota ESF terdiri dari 50 mitra Gojek yang 90%-nya adalah tuna rungu.

Ia pun menceritakan keluh kesah anggota yang terkadang mendapatkan kesulitan saat sedang membawa orderan GoRide, tak jarang penumpang pun menolak untuk dibawa oleh mitra tanpa alasan.

"Ada 50 orang anggota ESF yang kebanyakan itu teman tuli yang terdiri dari mitra GoRide, GoSend dan GoFood. Ada beberapa teman tuli yang pernah ditolak orderannya pas setelah diberitahu kalau saya tuli, kalau ditolak ya kita harus lebih bersabar aja nunggu orderan yang lain lagi," tutup Ashrul.

Kisah Ashrul, Dosen Tuna Rungu Nyambi GoSend Ajarkan Mitra Bahasa Isyarat


Simak Video "Akses Penyeberangan Ramah Disabilitas dan Lansia di Singapura"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/akn)