Jumat, 27 Sep 2019 16:24 WIB

Seputar Crowdfunding, Layanan yang Buat Ananda Badudu Ditangkap

Virgina Maulita Putri - detikInet
Seputar Crowdfunding, Layanan yang Buat Ananda Badudu Ditangkap Foto: dok. Banda Neira Seputar Crowdfunding, Layanan yang Buat Ananda Badudu Ditangkap Foto: dok. Banda Neira
Jakarta - Musisi dan penggiat Hak Asasi Manusia (HAM) Ananda Badudu ditangkap oleh Polda Metro Jaya pada Jumat (27/9/2019) subuh. Ia ditangkap di kawasan Tebet, Jakarta Selatan karena menggalang dana untuk mahasiswa yang berunjuk rasa pada Selasa, 24 September 2019.

Ananda memang sedang melakukan penggalangan dana lewat layanan crowdfunding Kitabisa.com. Dana tersebut digunakan untuk mendanai logistik unjuk rasa mahasiswa yang berlangsung pada Selasa-Rabu, 23-24 September 2019.



Lantas apa itu crowdfunding? Bagaimana cara kerjanya? Untuk tahu lebih jauh, berikut serba-serbi tentang crowdfunding:

1. Apa Itu Crowdfunding?

Crowdfunding atau urun dana adalah kegiatan pendanaan untuk proyek atau sebuah bisnis dengan mengumpulkan sejumlah uang dalam nominal kecil dari banyak penyumbang. Kegiatan ini biasa dilakukan secara online lewat internet.

Crowdfunding biasanya dilakukan sebagai upaya pendanaan alternatif. Kegiatan ini biasanya dilakukan untuk mendanai proyek komersial seperti proyek seni atau startup, atau untuk tujuan kemanusiaan seperti pendanaan biaya medis atau penggalangan dana untuk membantu korban bencana alam.

2. Sejarah Crowdfunding

Layanan crowdfunding terdedikasi pertama yang berdiri adalah Artistshare. Layanan yang berdiri pada tahun 2001 di Amerika Serikat ini berhasil mengumpulkan dana sebesar USD 130 ribu untuk proyek pertamanya.

Tapi, istilah 'crowdfunding' sendiri baru diperkenalkan pada tahun 2006 oleh entrepreneur Michael Sullivan yang ingin menggalang dana untuk proyek video-blog miliknya. Proyek Sullivan akhirnya gagal terencana, tapi dari perjuangannya lah istilah crowdfunding lahir.

3. Jenis-jenis Crowdfunding

Dilansir dari laman Kementerian Keuangan (27/9/2019), crowdfunding dibagi dalam empat jenis yaitu:

- Donation Based

Sesuai namanya, pendonor tidak akan mendapat imbalan atas sumbangan yang diberikannya. Biasanya bentuk donation based crowfunding digunakan untuk mendanai proyek nirlaba seperti pendirian sekolah atau bahkan pendanaan biaya kesehatan, seperti yang banyak ditemukan di Kitabisa.

Penggalangan dana yang dilakukan oleh Ananda sendiri merupakan donation based crowdfunding. Artinya para donatur tidak mendapatkan imbalan apa pun dari sumbangan yang mereka berikan.

- Reward Based

Pendonor di reward based crowdfunding biasanya mendapat imbalan dari penggagas proyek. Imbalannya bisa berupa barang, jasa atau sebuah hak, bukan memberikan bagi hasil dari keuntungan yang didapat dari proyek tersebut.

Bentuk pendanaan ini biasanya dilakukan oleh proyek dari industri kreatif seperti gadget, game, film, musik atau podcast di mana para donatur bisa mendapatkan produk atau merchandise menarik dari proyek tersebut.

- Debt Based

Crowdfunding jenis ini sama saja dengan pinjaman biasa. Calon debitur akan mengajukan proposalnya sedangkan para donatur akan menyetorkan modal yang dianggap sebagai pinjaman dengan imbal balik berupa bunga.

- Equity Based

Konsepnya sama dengan saham, di mana uang yang disetorkan akan menjadi ekuitas atau bagian kepemilikan atas perusahaan dengan imbalan dividen.



4. Cara Kerja Crowdfunding

Crowdfunding yang umum ditemukan biasanya mengumpulkan donasi dalam jumlah sedikit tapi menargetkan banyak donatur secara online lewat platform yang ada. Ada tiga unsur utama dalam crowdfunding online yaitu penggagas proyek atau pendanaan, donatur dan platform crowdfunding.

Dana yang dikumpulkan dari tiap-tiap donatur memang terbilang kecil, mulai dari nominal Rp 5 ribu dan seterusnya. Tapi menggunakan kekuatan internet dan media sosial, pendanaan ini menyasar ratusan hingga ribuan orang.

Penggagas proyek crowdfunding biasanya menetapkan target berapa nominal pendanaan yang ingin mereka capai serta tenggat waktu penggalangan dana. Dalam beberapa kasus, jika target nominal tersebut tidak tercapai setelah melewati tenggat waktu yang ditetapkan, dana yang sudah dikumpulkan akan dikembalikan kepada donatur.

Selain itu, biasanya platform crowdfunding juga menetapkan biaya administrasi terhadap dana yang disumbangkan. Biaya administrasi ini biasanya berada di kisaran 5%.

Penggalangan dana yang dilakukan oleh Ananda di platform Kitabisa telah berhasil menggalang dana sebesar Rp 175 juta dari target sebesar Rp 50 juta. Tenggat waktu penggalangan dana ini akan berakhir 25 hari lagi dari sekarang dan saat ini telah menggalang dana dari 2.129 donatur.

5. Layanan Crowdfunding Populer

Crowdfunding mulai populer di Amerika Serikat sekitar tahun 2009, bersamaan dengan didirikannya platform crowdfunding seperti Indiegogo pada tahun 2008 dan Kickstarter pada tahun 2009.

Kedua platform ini termasuk yang paling populer di dunia. Hingga Mei 2019, Kickstarter telah berhasil mengumpulkan dana hingga lebih dari USD 4 miliar dari 16,3 juta donatur untuk mendanai 445 ribu proyek.

Sedangkan di Indonesia, layanan crowdfunding baru populer beberapa tahun belakangan. Beberapa platform crowdfunding buatan anak negeri yang terbilang populer antara lain Kitabisa, Kolase, Gandengtangan, dan Akseleran.



Simak Video "Ananda Badudu: Musisi dan Penggalang Dana Demo yang Ditangkap Polisi"
[Gambas:Video 20detik]
(vmp/fay)