Robot Bebaskan Budak Anak-Anak
- detikInet
Jakarta -
Robot ternyata juga bisa menjadi pendobrak keadaan yang mengenaskan. Contohnya di Qatar, robot-robot kecil berbahan aluminium akan membebaskan budak anak-anak joki balap unta. Bagaimana caranya?Di Qatar, sebuah tradisi arab jahili bertahan. Adu balap unta di negeri ini menggunakan joki balita yang 'diimpor' dari Sudan. Kondisi anak-anak itu cukup mengenaskan. Mereka sengaja dibuat lapar agar bobot badan ringan, karena semakin ringan jokinya semakin cepat unta berlari. Mereka juga tidak disekolahkan. Kondisi itu membuat praktik joki unta dikategorikan sebagai perbudakan. Di akhir 2003, praktik itu mulai mendapat cemoohan dunia. PBB dan beberapa organisasi non pemerintah menggalang kampanye anti perbudakan anak. Amerika Serikat, yang memiliki pangkalan udara di Qatar, pun mencap negara itu sebagai pelaku perbudakan. Perhatian dunia terhadap kegiatan itu membuat petinggi di Qatar gelisah. Sebagai solusinya, mereka akan mengganti anak-anak tersebut dengan robot. Adalah emir Hamad bin Kalifah Al-Thani yang menugaskan penggantian joki balita dengan robot. Awalnya, klub ilmiah Qatar membuat robot pengganti. Namun ukurannya yang terlalu besar membuat robot itu tak cocok. Upaya mencari robot pengganti joki balita menemukan titik terang dari sebuah perusahaan asal Swiss. K-Team, perusahaan kecil pembuat robot untuk keperluan pendidikan, mendapatkan permintaan dari Qatar di akhir 2003. K-Team mengirimkan sepuluh insinyur, dua ahli hewan, dan seorang perancang untuk melihat keadaan di Qatar. Alexandre Colot dari K-Team memimpin tim tersebut. "Ada tiga masalah utama. Pertama, kondisi lingkungan -misalnya panas. Kedua, balapan itu sendiri akan menyebabkan banyak goncangan bagi robot. Ketiga adalah interaksi robot dengan binatang," tutur Colot seperti dikutip dari artikel di Wired Magazine oleh detikinet Minggu (30/10/2005).Robot Pembebas BudakButuh waktu cukup lama untuk menghasilkan prototipe robot yang sempurna. Awal 2005, Colot dan timnya baru bisa menghasilkan prototipe robot yang bekerja baik. Masing-masing joki robot itu dihargai US$ 10.000 (US$ 1 = Rp 10.000 sumber:detik.com). Di Qatar, olahraga balap unta memang hanya dinikmati oleh orang-orang kaya. Mereka melakukan hal itu lebih demi gengsi daripada demi uang. Setiap robot memiliki rangka aluminium dan penahan guncangan. Tubuh robot itu adalah sebuah kotak seukuran buku tebal. Robot itu memiliki dua tangan, satu mengendalikan cambuk dan satu lagi mengendalikan kekang. Dalam sebuah balapan, pelatih unta akan mengikuti unta dari belakang dalam sebuah mobil. Kendali robot dilakukan dengan remote control yang terdiri atas joystick, tombol, dan layar indikator kecepatan dan detak jantung unta. Pada awalnya robot itu memiliki wajah berwarna putih. Namun menurut Colot hal ini membuat 'takut' unta-unta. Kemudian wajah itu diganti dengan wajah yang lebih ramah, berwarna coklat-jingga mirip kulit para penunggang dari Badui. Uniknya, perdana menteri Qatar (saudara kandung Emir Hamad) memerintahkan agar robot itu tidak memiliki wajah saat musim perlombaan dimulai. Adanya wajah pada joki robot dikhawatirkan akan menyinggung umat islam. Masalah Belum SelesaiMeski sukses menggantikan para joki balita asal Sudan, robot tersebut tidak serta-merta memecahkan masalah. Balita eks-joki dikirimkan kembali ke Sudan tanpa bekal apa-apa. Masalah perbudakan di arena balap unta mungkin terpecahkan, namun masalah yang harus dihadapi anak-anak dari keluarga miskin itu akan tetap ada. Mereka dikirimkan kembali tanpa pemeriksaan kesehatan maupun pelajaran baca-tulis. Lebih buruk lagi, kini anak-anak tersebut tidak memiliki penghasilan. Hal itu diakui juga oleh Feleke Assefa dari Kantor Anti Human Traficking. "Akan tetapi, mereka tadinya budak. Tentunya tak bisa dikatakan bahwa perbudakan lebih baik dari kemerdekaan?" ujarnya berargumen. Meski tidak menyelesaikan seluruh masalah, paling tidak kejadian di Qatar bisa menjadi contoh pemanfaatan teknologi untuk hal-hal yang baik. Robot pun bisa membebaskan budak-budak.
(wsh/)