Rabu, 14 Agu 2019 19:45 WIB

Alumni Harvard, CEO GoPay Cerita Awal Kolaborasi sama Nadiem Makarim

Uji Sukma Medianti - detikInet
Foto: Screenshot akun Youtube Arief Muhammad Foto: Screenshot akun Youtube Arief Muhammad
Jakarta - Nama Aldi Haryopratomo memang tidak sepopuler Nadiem Makarim. Akan tetapi, ia menjabat posisi penting di tubuh perusahaan decacorn tersebut.

Ya, Aldi adalah CEO GoPay, platform pembayaran yang awalnya digunakan untuk melakukan transaksi di aplikasi GoJek. Saat ini, GoPay telah merambah menjadi platform pembayaran bahkan saat tanpa melakukan aktivitas pakai fitur-fitur GoJek.

Bagaimana cerita Aldi bisa jadi orang nomor satu di GoPay?

"Sebelum kuliah di Harvard, dulu gue sempet bangun perusahaan pinjaman untuk warga di desa-desa. Nah modalnya dari gaji pas kerja di Amerika," kata Aldi dalam vlog Arief Muhammad seperti dikutip, Rabu (14/8/2019).




Saat mendatangi desa-desa, Aldi menyadari bahwa orang di desa tidak cukup hanya diberi pinjaman saja. Mereka butuh lebih dari itu. Namun, saat itu Aldi mengaku kesulitan dana. Ia pun membutuhkan koneksi untuk mendapatkan investor.

Caranya, pada waktu itu ia ikut tes masuk kuliah di Harvard University. Dengan begitu ia berasumsi bisa mendapatkan koneksi sekaligus investor untuk mengembangkan rencana bisnisnya.

Saat itu, ia tidak langsung mendapatkan beasiswa tetapi sudah diterima masuk.

"Akhirnya gua bisa kuliah di sana (dengan beasiswa),dan gua menang lomba business plan. Karena gua menang lomba gua dapat hadiah biar bisnis gua jalan dan gua dapat investor," jelasnya.

Ia lalu membangun Arisan Mapan. Di bisnis ini, ia mengumpulkan para ibu rumah tangga di desa-desa yang mana mereka mau membeli panci tetapi harus dicicil bayarnya. Otomatis mereka harus membayar dua kali lipat dari harga cash.

Melalui Arisan Mapan, Aldi bisa membuat ibu-ibu mendapatkan panci tetapi dengan harga yang sama dengan tunai namun bisa dicicil dan bikin kelompok.

"Jadi bisa beli barang dengan harga cash tapi bayarnya dicicil, jadi mereka saling bantu dapat barangnya gantian," tuturnya.

Seiring berjalannya waktu member Arisan Mapan jumlahnya telah mencapai 2,5 juta anggota keluarga. Produknya pun berlanjut menjadi tabungan bingkai mimpi, yang tujuannya bisa juga buat kuliah anak-anak mereka.

Sampai suatu ketika ada ibu-ibu yang datang kalau dia tidak bisa menabung lagi karena suaminya sudah tak bekerja. Akhirnya, ia bertanya kepada ibu tersebut.

"Jadi gua tanya ibu bisanya apa? Dia bilang dia setiap hari biasanya antar anak sekolah naik motor. Nah akhirnya gua tawarin lah si ibu ini yang kebetulan rumahnya di Radio Dalam buat jadi driver GoJek. Gua bikin video sama Nadiem waktu itu waktu awal-awal GoJek," tuturnya.




Ia memang mengenal Nadiem sejak kuliah di Harvard. Dari situ lah ia berpikir Arisan Mapan dibentuk untuk mengurangi pengeluaran, sementara GoJek dibentuk untuk menambah pendapatan.

"Dan kebanyakan driver GoJek itu kan laki-laki ya, jadi gua bikin program sama GoJek suaminya jadi driver istrinya jadi ketua arisan," jelasnya.

Pengalamannya di bidang payment dan financial service pun dilirik oleh Nadiem untuk berkolaborasi. Akhirnya, ia memulai kerja sama ini pada 2016.

"Gua pikir tuh gila ini (GoJek sama Arisan Mapan) kalau digabung jadinya powerful banget. Kenapa kita gak kolaborasi aja buat bangun Indonesia sama-sama. Akhirnya gua terima tawarannya sampai jadi CEO GoPay sekarang," pungkasnya.


(ujm/krs)