Kamis, 01 Agu 2019 11:31 WIB

Benteng Keamanan WhatsApp Terancam Intelijen '5 Mata'

Fino Yurio Kristo - detikInet
Ilustrasi. Foto: Getty Images Ilustrasi. Foto: Getty Images
Jakarta - WhatsApp punya teknologi penyandian atau enkripsi end to end yang berarti pesan tak dapat dibaca kecuali oleh pengirim dan penerima. Tapi 'benteng' tersebut terancam oleh kelompok intelijen Five Eyes.

Intelijen Five Eyes adalah gabungan biro mata-mata Amerika Serikat, Inggris, Australia, Kanada, dan Selandia Baru. Dalam pertemuan yang baru saja digelar di London, mereka mengharapkan punya akses khusus backdoor pada WhatsApp dan platform komunikasi tersandi lain.

Dikutip detikINET dari Guardian, pertemuan dengan tuan rumah Menteri Dalam Negeri Inggris, Priti Patel itu, membahas upaya menangani terorisme dan pelecehan anak. Pembahasan mengenai komunikasi tersandi di WhatsApp dan layanan lain menjadi salah satu topik utama.




"Five Eyes berpendapat sama bahwa perusahaan teknologi tak seharusnya mengembangkan sistem dan layanan mereka, termasuk enkripsi end to end, yang mewadahi kriminal atau membuat orang yang rentan kena risiko," sebut Patel.

"Kita harus memastikan tidak diam saja di saat kemajuan teknologi menciptakan ruang di mana aktivitas kriminal yang paling mengerikan bisa tidak terdeteksi dan tidak kena hukuman," cetusnya.




WhatsApp belum berkomentar soal itu. Layanan milik Facebook ini sudah banyak didesak dapat membuka pesan pada aparat jika diperlukan, khususnya untuk membongkar kasus kejahatan.

Tahun silam, lembaga intelijen Inggris GCHQ mengusulkan agar aplikasi komunikasi tersandi membuat sistem yang memungkinkan agen pemerintah dapat menyusup ke pesan privat.

Kala itu, WhatsApp menolak saran tersebut. "Jika pejabat minta penyedia layanan menulis ulang software untuk mengizinkan ada partisipan 'hantu' dari pemerintah Inggris dalam pesan terenkripsi, tak ada cara mencegah pemerintahan lain melakukannya," sebut WhatsApp.

"Ini menimbulkan kekhawatiran terkait rezim yang represif dan juga negara-negara dengan catatan buruk soal hak asasi manusia," tambah mereka.




Simak Video "Duh! WhatsApp Hilang dari Play Store"
[Gambas:Video 20detik]
(fyk/krs)