Tak Suka Lihat Font 'Comic Sans'? Mungkin Ini Alasannya

Tak Suka Lihat Font 'Comic Sans'? Mungkin Ini Alasannya

Aisyah Kamaliah - detikInet
Rabu, 31 Jul 2019 07:15 WIB
Font Comic Sans. (Foto: dok. freefonts.io)
Jakarta - Jika kamu termasuk orang yang secara naluriah tak suka melihat font comic sans, hal ini mungkin bisa menjelaskan alasan di balik ketidaksukaan tersebut.

Sebelum itu, kenalan dulu dengan sosok pencipta font "gaul" ini. Ia adalah Vincent Connareo, kreator font 'comic sans' di tahun 1994. Saat itu ia mendesain bentuk tulisan yang lebih ceria untuk Microsoft dan ditujukan untuk kalangan muda.


"Ide awal saya adalah (font comic sans) itu akan digunakan untuk anak muda. Memang tidak dibuat agar semua orang menyukainya," kata Connare kepada Live Science.

Seiring berjalannya waktu, font tersebut banyak digunakan orang baik untuk iklan, billboard, dan bahkan "melenceng" hadir pada dokumen formal.

Sampai akhirnya di tahun 2002, muncul gerakan yang dilakukan oleh dua orang tipografer untuk melarang penggunaan font tersebut. Beberapa desainer pun ikut menyuarakan ketidaksukaan mereka pada comic sans.

Hmm padahal tulisannya imut banget ya, detikers. Kok bisa sih banyak yang benci? Nah, secara ilmiah begini salah satu dugaannya.


Jo Mackiewicz, Profesor retorika sekaligus profesor komunikasi di Iowa State University, pernah menjelaskan argumennya mengenai permasalahan comic sans tersebut. Menurutnya poin paling penting adalah masalah penempatan penggunaan font tersebut.

"Saya pikir alasan banyak orang membencinya adalah karena sering dilihat dan dipakai di tempat-tempat yang tidak sepatutnya," jelas Mackiewicz.

Menggunakan font pada situasi yang kurang tepat memang bisa berpengaruh besar. Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian mengungkap bahwa manusia sangat pandai dalam menyesuaikan konteks dan font tulisan.

"Lebih banyak dokumen profesional cenderung menggunakan font serif," kata Barbara Chaparro, yang memimpin penelitian saat masih menjadi peneliti di Wichita State University.

"Comic Sans adalah jenis huruf sans serif - dirancang untuk informal, kasual, dan digunakan untuk bahan semacam itu - seperti komik. Saya rasa itu tidak pernah dimaksudkan untuk digunakan untuk dokumen serius," tuturnya.


Sama seperti Mackiewicz, Chaparro beranggapan penggunaan yang seringkali salah tempat ini membuat para tipografer merasa kesal. Itulah yang mungkin menjadi penyebab font ini memiliki banyak hater.

"Ini menghasilkan ketidakcocokan - jenis huruf informal, kekanak-kanakan, 'lucu' untuk huruf topik yang berpotensi serius," tandasnya.




Simak Video "Microsoft Akan Genjot Bukalapak Rp 1,46 T"
[Gambas:Video 20detik]
(ask/krs)