Sabtu, 20 Apr 2019 15:35 WIB

Hastu Wijayasri, Kartini Masa Kini yang Ngoding dalam Hening

Mutiara Arumsari - detikInet
Hastu Wijayasri. Foto: Dicoding Hastu Wijayasri. Foto: Dicoding
Jakarta - Sejak kecil, Hastu Wijayasri tidak dapat mendengar. Tapi urusan semangat belajar, jangan ditanya. Sejak kecil Hastu bersekolah di sekolah umum.

Hobinya menggambar doodle, berbakat menari, jalan-jalan dan suka dengan instalasi seni. Tengok saja akun Instagram-nya @Hastuwijaya. Kalian akan lihat banyak karya dan prestasinya yang tak hanya membuatmu tersenyum, melainkan juga kagum.

Mahasiswa UIN Yogya ini kini duduk di semester 3 jurusan Teknik Informatika. Mata kuliah favoritnya adalah Human Computer Interaction alias Interaksi Manusia dan Komputer. Kuliah 4 hari dalam seminggu. Banyak menghabiskan waktu senggang setelah kuliahnya di laboratorium kampus.

Awalnya, Hastu sempat merasa bahwa belajar teknik informatika itu, "pusing," ujarnya dengan tangan mengepal memutar di depan dahi. Wajahnya yang riang tersenyum mendadak cemberut sekilas.

Di kelas perkuliahan, Hastu memahami materi dengan membaca gerak bibir dosen. Sesekali ia merekam video kegiatan belajar di kelas atau didampingi oleh pendamping yang merupakan relawan PLD. Seusai kelas, ia akan memutar video itu kembali untuk memahaminya. "Kadang-kadang berhasil. Kadang nggak," jelasnya dengan ekspresi terkekeh.

Hastu Wijayasri, Kartini Masa Kini yang Ngoding dalam Hening Karya-karyanya di akun Instagram @hastuwijaya


Motivasi dalam Belajar

Buatnya, kuliah sangat menantang. Meski kadang sulit memahami, Hastu punya beberapa kesukaan sendiri yang membuatnya semangat belajar.

Semangat pertama hadir lewat seorang dosen favoritnya. Dalam suatu ketika saat dirinya sedang down, sang dosen pernah berucap "Harus fokus pada satu hal." Ia pun merasa tergugah untuk lebih berikhtiar dalam belajar.

Sejak itu, berkaca pada dirinya, gadis asal Yogyakarta ini pun sadar. Ia harus mengurangi hal-hal yang kurang bermanfaat dan fokus pada niat awal untuk belajar, apapun rintangannya.

Motivasi lain adalah komunitasnya. Saat ini Hastu fokus mengajar bahasa isyarat pada lebih dari 200 orang relawan PLD di kampusnya.

UIN memiliki Pusat Layanan Difabel (PLD) sebagai unit layanan untuk mahasiswa difabeL. Di sanalah Hastu berkecimpung. Menyadari minat teman-temannya yang besar dalam belajar bahasa isyarat, Hastu berinisiatif menjadi relawan pengajar.

Komunitas ini dinamakan "Relawan Sahabat Inklusi." Selain Hastu, banyak juga teman-temannya yang mendaftar, sebagai relawan pendamping akademik bagi mahasiswa tunadaksa, tunarungu, dan tunagrahita, dan tunanetra.

Hastu Wijayasri, Kartini Masa Kini yang Ngoding dalam Hening Mengajar bahasa isyarat untuk para relawan. Foto: Dicoding


Mengembangkan Aplikasi Audio Book

Hastu juga sangat menyukai aktivitas pengembangan diri yang ia jalani. Bersama dengan rekan-rekannya, Tesya Nurintan, Millati Pratiwi, Azki Hidayatulloh Alfain, Ajie Dwihastadi, Ari Lukman Purnawirawanto, dan Khamdan Nahari, mereka mengembangkan Audio Book sejak Mei 2018.

Ini adalah semacam aplikasi ojek online. Bedanya dengan aplikasi ojek online yang sudah ada, aplikasi inklusif Audio Book memfokuskan pada layanan bantuan bagi kaum difabel. Solusi inovatif ini mempertemukan antara user (difabel) dengan service provider (mahasiswa relawan) untuk beragam jenis bantuan.

Misalnya, ada user tunanetra yang memerlukan bantuan pemahaman materi pada satu mata kuliah tertentu. Di sisi lain ada relawan yang bersedia mengunggah suaranya membacakan buku atau catatan perkuliahan sesuai permintaan. Aplikasi ini memudahkan keduanya bertemu, plus menyediakan fitur suara untuk tunanetra. Keren kan?

Tugas Hastu dalam pengembangan aplikasi inklusif ini adalah menggarap User Interface. Saat ini aplikasi tersebut tengah digarap untuk launching beberapa bulan ke depan.

Untuk mendapat tambahan ilmu tentang pengembangan aplikasi inklusif yang dimaksud, Hastu tergabung dalam Google Developer Students Club. Di sana ia mengikuti beberapa workshop yang mengembangkan kemampuan teknis. Mereka selalu bekerja dalam tim.

Hastu Wijayasri, Kartini Masa Kini yang Ngoding dalam Hening Bersama teman-teman Developer Students Club UIN SUKA. Foto: Dicoding


'Kekurangan' sebagai Kekuatan

Satu hal yang pasti, 'kekurangan' Hastu adalah kekuatannya. Ia belajar, berusaha lebih untuk hal yang kadang kita anggap sangat sederhana. Tidakkah itu yang membuat kita kuat?

Karena itu langkah dan mimpi Hastu tak hanya sejauh gerbang kampus. Di Dicoding ia mendapatkan Beasiswa Kartini dari Indosat yang dianugerahkan pada ke-51 perempuan developer yang terpilih.

Saat ditanya kenapa mendaftar, dengan mata berbinar ia menjawab "Ingin tambah pengetahuan cara membuat aplikasi." Terbukti, kini Hastu tengah berjuang menuntaskan submission demi submission. Lagi-lagi "Pusing" katanya.

Meski demikian, targetnya mantap: menuntaskan project movie catalogue-nya di kelas Menjadi Android Developer Expert. Ini selaras dengan hobinya, nonton, dan jalan-jalan back to nature.

Di channel Youtube-nya, ia juga senang mengunggah pengalamannya berkeliling di kota Malang. Tapi itu dulu. Sekarang, Hastu sedang punya kesibukan sendiri.

"Weekend saya kerjakan kelas MADE," ujarnya. MADE adalah singkatan dari Menjadi Android Developer Expert yang merupakan salah satu kelas di Dicoding.

Anak ke-3 dari empat bersaudara ini juga berharap. Dengan skill yang ia miliki, ia bisa membantu Komunitas Deaf Art.

"Saya punya teman-teman di sana," ujarnya. Di sana, teman-teman seperjuangan Hastu sangat gigih berkarya demi mencari nafkah. Batasan fisik ataupun apapun itu, bukan rintangan.

Hebat! Semoga berhasil, Hastu.


* Dikutip dari salah satu artikel di Dicoding, platform pengembangan ekosistem developer di Indonesia, dalam rangka menyambut Hari Kartini. (/rns)