Minggu, 14 Apr 2019 16:00 WIB

Kesaksian Orang Asing Soal Sistem Kerja '996' di China

Fino Yurio Kristo - detikInet
Ilustrasi. Foto: Gettyimages Ilustrasi. Foto: Gettyimages
Jakarta - Bekerja dari pukul 9 pagi sampai 9 malam selama 6 hari seminggu atau 996 adalah hal yang cukup lumrah di China. Sistem kerja yang sedang hangat diperbincangkan itu memang cukup bikin heran bagi orang asing.

"Ketika kami membangun Uber China dan berkompetisi dengan Didi, kami membicarakan budaya 996 mereka sepanjang waktu. Hal itu adalah sesuatu yang menakutkan untuk dilawan," tulis Andrew Chen, mantan pegawai Uber China.

Uber akhirnya memilih menghentikan operasi taksi online-nya dan bergabung dengan Didi. Meskipun hukum di China menyatakan perusahaan tidak boleh memberi beban kerja lebih dari 44 jam seminggu, praktik 996 nyatanya tetap dilakukan, utamanya oleh perusahaan teknologi.



Dari sisi keseimbangan hidup dan kesehatan mental dan fisik para pegawai, sistem itu memang banyak dikritik. Tapi di sisi lain, itulah salah satu faktor yang dianggap membuat industri teknologi China cepat maju.

"Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan tidak eksis di startup China. Meeting sungguh bisa kapanpun. Saya pernah meeting dijadwalkan jam 11 malam, tapi ditunda karena ada meeting lain sehingga dimulai pada tengah malam," sebut Cyriac Roeding, penggiat startup dan pendiri Roeding Ventures.

"Di China, ada budaya kerja startup yang disebut 996. Jika kalian pikir di Silicon Valley jam kerjanya intens, pikirkan lagi. Bagi pendiri dan eksekutif top, malah bisa 9/11/6,5. Hal itu mungkin tidak sangat efisien atau berguna, tapi sungguh hal yang umum," papar dia yang dikutip detikINET dari Recode.

"Tim tinggal di hotel berminggu-minggu sebelum sebuah peluncuran produk, di mana mereka cuma kerja, tidur dan olahraga, agar bisa fokus tanpa gangguan. Meski saya pikir jam kerja panjang bukan ukuran produktivitas, saya kagum pada semangat dan dorongan besar mereka," tandasnya.



Sistem kerja itu memang sedang mendapat tantangan, terutama kaum muda yang mulai menyadari hak-haknya. Selain memprotes, tak sedikit yang langsung resign. "Kalian bekerja terus dan menjadi sangat-sangat lelah. Tapi jika komplain, mereka mengatakan cari saja pekerjaan lain," sebut seorang pemuda bernama Li yang hanya bertahan 20 hari di perusahaannya.

"Menurut pengalaman saya, anak muda terutama generasi di atas tahun 1990 menolak bekerja lembur, mereka lebih memperhatikan diri sendiri," sebut pengamat hak karyawan di China, Li Jupeng. (fyk/fyk)