Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Berwarna Merah Darah, Ini Sebabnya

Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 Berwarna Merah Darah, Ini Sebabnya


Rachmatunnisa - detikInet

Foto kolase penampakan fenomena fase gerhana bulan total di langit pulau Lombok, Mataram, NTB, Senin (8/9/2025). Fenomena astronomis gerhana bulan total tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang dari Kota Mataram, Lombok mulai pukul 23.26 WITA sampai pukul 03.56 WITA.ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi
Jakarta -

Gerhana Bulan total yang terjadi pada 3 Maret 2026 akan menyuguhkan pemandangan langit yang spektakuler. Pada momen ini, Bulan akan tampak berwarna merah, sehingga fenomena tersebut dikenal sebagai Blood Moon atau Bulan Berdarah.

Warna merah yang terlihat saat gerhana bukan karena Bulan benar-benar berubah warna. Fenomena ini terjadi akibat cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi sebelum akhirnya mencapai permukaan Bulan.

Gerhana Bulan total terjadi ketika Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan, sehingga seluruh permukaan Bulan masuk ke dalam bayangan inti Bumi (umbra). Dalam kondisi ini, cahaya Matahari tidak lagi menyinari Bulan secara langsung, tetapi masih bisa menjangkaunya melalui atmosfer Bumi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat cahaya Matahari melewati atmosfer Bumi, gelombang cahaya dengan panjang lebih pendek seperti biru dan ungu akan tersebar lebih kuat. Sebaliknya, gelombang cahaya dengan panjang lebih besar, seperti merah, justru lebih banyak lolos dan diteruskan.

Cahaya merah inilah yang kemudian dibelokkan (refracted) oleh atmosfer Bumi dan mencapai Bulan yang berada di dalam bayangan umbra. Proses ini dikenal sebagai hamburan Rayleigh (Rayleigh scattering).

ADVERTISEMENT

Akibatnya, meskipun Bulan berada dalam bayangan gelap, cahaya merah dari seluruh tepi Bumi-dari wilayah Matahari terbit dan terbenam-tetap menyinari Bulan, menghasilkan warna merah atau tembaga khas Blood Moon.

Dikutip dari BBC, efek ini serupa dengan langit berwarna merah saat Matahari terbit atau terbenam, yang juga disebabkan oleh hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi.

Warna Merah Bisa Berbeda-beda

Intensitas warna merah saat gerhana Bulan total tidak selalu sama. Tingkat kegelapan dan rona merah yang terlihat dapat bervariasi antarperistiwa, tergantung pada kondisi atmosfer Bumi saat itu.

Faktor seperti debu, abu vulkanik, awan, atau polutan di atmosfer memengaruhi seberapa banyak cahaya Matahari yang tersebar atau tertahan sebelum mencapai Bulan. Semakin banyak partikel di atmosfer, semakin kuat hamburan cahaya biru, dan semakin dalam warna merah atau tembaga yang tampak saat fase totalitas.

Berbeda dengan gerhana Matahari, gerhana Bulan aman diamati langsung dengan mata telanjang karena tidak menimbulkan risiko paparan radiasi berbahaya. Pengamat cukup melihat ke arah Bulan saat fase totalitas untuk menikmati perubahan warna yang menakjubkan ini.




(rns/rns)







Hide Ads