Kamis, 31 Jan 2019 19:00 WIB

Kecerdasan Buatan Jangan Dilawan, Ajak Berkawan

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi robot. Foto: JOHN THYS/AFP/Getty Images Ilustrasi robot. Foto: JOHN THYS/AFP/Getty Images
Jakarta - Nama-nama kondang di jagat teknologi dunia seperti Jack Ma dan Elon Musk sempat beberapa kali mengumbar kecemasannya terhadap perkembangan kecerdasan buatan. Keduanya beranggapan teknologi tersebut bisa berbahaya jika tidak dikendalikan.

Meski demikian, IDC Indonesia justru mengatakan yang sebaliknya. Mevira Munindra, Head of Operations IDC mengatakan kecerdasan buatan akan mampu membantu manusia.

"Kecerdasan buatan bakal membantu manusia. Konsep menggantikan (manusia) itu yang banyak orang takuti. Kalau peluang kecerdasan buatan untuk menggantikan mungkin ada, tapi bukan manusianya, tapi dari fungsi pekerjaannya," ujarnya saat ditemui dalam sebuah kesempatan.




"(kecerdasan buatan) akan melahirkan peluang pekerjaan baru yang nanti skill set-nya juga akan bertambah. Makanya sebenarnya pertanyaannya adalah pekerjaan apa lagi yang bisa diproduksi oleh perusahaan maupun pemerintahan. Jujur saja, kalau kita lihat, human engagement pasti akan di-leverage banyak dari segi proses, operasionalnya, maupun dari customer engagement," tuturnya menambahkan.

Kalau pernyataan tersebut masih membuat kalian merasa takut 'tersisih', mungkin yang ini bisa membantu. Mevira mengatakan, Indonesia masih jauh dari kata matang untuk urusan implementasi kecerdasan buatan.

"Kalau untuk adopsi hingga matang mungkin butuh lebih dari lima tahun. Saat ini masih sekadar untuk chatbot, otomasi. Butuh adanya kolaborasi antara perusahaan dengan pemerintah dan konsumennya juga untuk bisa develop," katanya.

Selain itu, ia melanjutkan, belum banyak perusahaan lokal yang bisa mengumpulkan data untuk menjadi 'makanan' bagi kecerdasan buatan agar bisa berkembang. Menurutnya, itu langkah yang harus diperbaiki terlebih dahulu agar mereka bisa bergerak ke implementasi lebib lanjut.

Lantas, bagaimana jika Indonesia dibandingkan dengan negara-negata tetangga di Asia Tenggara. Bagi Mevira, baru Singapura yang sudah melangkah di depan.

"Kalau kita compare Indonesia dengan negara ASEAN, mungkin baru Singapura yang sudah leverage ke arah sana, negara lain juga masih explore dari use cases yang ada. Singapura itu sudah ada penetrasi dari perusahaan China, Eropa, atau Amerika Serikat yang sudah masuk. Dari segi penetrasi dan edukasi mereka jauh di atas indonesia,"




"Indonesia itu luas banget, jadi case yang kami lihat bahwa tidak mudah melakukan penetrasi di Indonesia. Indonesia masih hijau-hijaunya sebenarnya sekarang. Karena pasarnya sangat luas, Indonesia bisa menjadi target selanjutnya dari perusahaan-perusahaan teknologi untuk lebih masuk ke ASEAN," pungkasnya.


(rns/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed