Selasa, 30 Okt 2018 21:35 WIB

Kolom Telematika

Cara Cepat Kaya dengan ICO

Bayu Dahana, Satriyo Wibowo - detikInet
Ilustrasi cryptocurrency (Foto: Jack Taylor/Getty Images) Ilustrasi cryptocurrency (Foto: Jack Taylor/Getty Images)
Jakarta - Mau cepat kaya? Mau dapat uang jutaan dollar dengan cepat tanpa susah payah bekerja bertahun-tahun? Rasanya semua pembaca akan mengiyakan dan apabila kita melihat tren dunia internet saat ini, rasanya banyak cara mudah untuk jadi kaya dengan cepat. Bukan saja menjadi artis selebgram atau youtuber, namun juga dengan menjual ide bisnis menerbitkan ICO, Initial Coin Offering. Benarkah?

Pernah dengar block.one? Baru-baru mereka ini berhasil mendapatkan dana sebesar USD 4 miliar atau sekitar Rp 60 triliun (!) tanpa produk riil (!!!) melalui ICO. Silakan googling atau cek di sini kalau tidak percaya. Apa yang dia jual Cryptocurrency dengan nama EOS yang menjanjikan kemampuan pemrosesan jutaan transaksi tiap detik.

Apakah ICO sama dengan IPO (Initial Public Offering)? Beda. Menurut FINMA, ICO adalah bentuk pengumpulan dana publik secara digital berbasis Blockchain yang digunakan startup untuk mendapatkan modal dengan cara menjual token, sementara IPO adalah bentuk pengumpulan dana publik bagi perusahaan mapan yang hendak mengembangkan usahanya melalui penawaran saham.

Token yang ditawarkan ICO dikategorikan oleh FINMA ke dalam tiga jenis, yakni payment token, utility token, dan asset token. Payment token yang berkembang sebagai cryptocurrency mendapatkan pengawasan ketat untuk menjamin regulasi anti pencucian uang. Utility token dimaksudkan untuk memberikan akses digital ke aplikasi atau layanan, seperti koin dingdong. Asset token mewakili aset nyata seperti partisipasi dalam bentuk fisik, perusahaan, aliran penghasilan, hak atas dividen atau pembayaran bunga.

Sebagai catatan, ICO sebagai bentuk pengumpulan dana publik belum mendapatkan kejelasan regulasi dari OJK karena yang ditawarkan ke publik bukan saham namun produk digital dalam bentuk token. Nilai token dapat berkembang tergantung model bisnis dan penerimaan pasar yang bisa jadi dianggap sebagai bentuk investasi. Payment token sendiri diperlakukan seperti uang asing oleh BI (dapat dimiliki namun dilarang untuk transaksi di Indonesia), namun BAPEBBTI telah mengakuinya sebagai komoditas berjangka untuk spot dan future transaction.

Kunci sukses ICO adalah model bisnis yang memberikan solusi nyata, pasar yang besar, kejelasan perencanaan, dan orang-orang di belakang perusahaan tersebut. Model bisnis dituangkan di dalam whitepaper yang menjelaskan bagaimana token memberikan nilai tambah kepada penggunanya. Yang menjadi tantangan adalah berfikir revolusioner untuk para pelaku startup sehingga menemukan suatu model bisnis yang tepat sebagai solusi suatu permasalahan dan kemudian membentuk pasar.

Contoh ICO yang menarik seperti Rentberry dengan model bisnis sewa properti dengan pembayaran dalam bentuk token BERRY dan menghilangkan biaya intermediary dalam bentuk jasa bank dan agen pemasaran. Contoh lainnya adalah WePower, platform green energy trading sebagai bagian smartgrid seperti yang dikemukakan Eddie Widiono dari PJCI dalam sesi Critical Information Infrastructure Protection di Indonesia Cyber Security Summit (ICSS) Bali.

Mengapa banyak ICO ternyata scam? Sebenarnya sama ketika startup di dunia nyata menjaring investor, ada yang sukses bisnisnya ada pula yang gagal. Bedanya, karena ICO terjadi di dunia maya yang tidak diregulasi secara ketat, lebih susah untuk mengejar penerbitnya sehingga banyak yang menggunakan ICO sebagai modus penipuan/scam.

Ada beberapa ICO yang sangat sukses karena model bisnisnya kuat dan orang di belakangnya memang telah mempunyai reputasi. Ethereum (saat itu belum dikenal istilah ICO), Filecoin, Neo, Augur, Steemit, adalah beberapa contoh ICO yang sangat sukses: penjualan tokennya laku keras dan ketika diperdagangkan di exchange harganya berkembang beratus-ratus kali lipat.

Meskipun demikian, banyak kasus dimana ICO yang laku keras kemudian ternyata penerbitnya hilang begitu saja, meninggalkan investor dan membawa lari jutaan dolar Amerika (contoh: Pincoin). Ada juga ICO yang setelah sukses mendulang dana, token yang diperjualbelikan harganya turun jauh di pasaran.

Secara umum berikut langkah-langkah penerbitan ICO.
1. pembentukan tim dengan reputasi yang sudah dikenal di dunia cyptocurrency
2. membangun whitepaper yang meyakinkan
3. memilih platform Blockchain yang sesuai dengan model bisnis terutama berkaitan dengan konsensus dan konsep mining
4. membangun channel marketing serta media sosial untuk berkomunikasi dengan calon investor
5. menentukan pendirian perusahaan di wilayah negara yang memperbolehkan ICO atau minimal sudah memiliki peraturan mengenai investasi cryptocurrency

Cara Cepat Kaya dengan ICOFoto: Blockchain Nusantara

Beberapa platform Blockchain yang terkenal dipakai untuk ICO dan menerbitkan cryptocurrency baru adalah tipe public permissionless untuk menarik sebanyak- banyaknya investor baik sebagai miner, trader, market place, ataupun currency exchanger. Di dalam artikel ini hanya akan dibahas beberapa yaitu: Ethereum, Neo, dan Stellar.

Ethereum

Ethereum (2014) merupakan platform blockchain yang open source, publik, dan memiliki kapabilitas scripting dengan "smart contract". Ethereum memiliki mata uang bawaan yakni Ether yang salah satu gunanya sebagai kompensasi miner yang telah memberikan computing powernya untuk penentuan konsensus.

Ethereum memiliki kapabilitas kalkulasi yang dapat melakukan berbagai macam business logic dalam sebuah aplikasi serta menyimpan data di dalamnya. Untuk mencegah terjadinya serangan DDoS atau infinite loop, Ethereum menerapkan limitasi berupa biaya eksekusi yang disebut dengan "gas"; dan dibayarkan dengan Ether.

Komunitas developer yang besar yang didukung oleh Ethereum Foundation sendiri membuat Ethereum menjadi platform ICO terpopuler dengan 80% market share. Hal ini juga dipengaruhi karena adanya standarisasi token cryptocurrency ERC20 untuk smart contract yang menyatakan fungsi-fungsi dasar dari sebuah token, misalnya total supply, function transfer, approval, dan lain-lain.

Neo

Neo adalah platform yang mirip dengan Ethereum memiliki berbagai macam token bawaan yang berjalan di platformnya, yakni Neo, Gas, dan Ontology. Token Neo bersifat tidak dapat dibagi alias bilangan bulat berfungsi sebagai "tabungan";. Gas adalah token yang bisa berupa desimal sebagai biaya eksekusi dan Ontology (ONT) berguna untuk voting di dalam jaringan.

Dengan teknik konsensus dBFT yang digunakannya, Neo diklaim mampu mencapai kecepatan 10.000 transaksi per detik. Neo memiliki kemampuan smart contract yang dapat dikembangkan menggunakan berbagai macam bahasa pemrograman seperti Microsoft .NET, Java, Kotlin, Go, dan Python. NEO juga sudah memiliki standarisasi token mirip ERC20, yaitu NEP5.

Stellar

Stellar fokus didesain untuk sistem pembayaran, open source, dan dapat dengan cepat melakukan pertukaran mata uang fiat hanya dalam waktu 2-5 detik. Stellar tidak mendukung adanya smart contract yang sifatnya kompleks.

Salah satu kapabilitas Stellar adalah penerbitan mata uang (token) dengan menghubungkan token dengan issuer. Sebuah token yang diterbitkan pasti akan memiliki issuer, di mana issuer ini harus menyatakan bahwa ia secara riil memiliki supply token tersebut. Cryptocurrency yang dibuat kemudian dapat diterbitkan melalui ICO, seperti yang dilakukan oleh Mobius Network.

Banyak sekali platform public permissionless selain yang disebutkan di atas. Bitcoin sendiri adalah suatu platform dan dikembangkan lebih lanjut menjadi NXT. NEM didesain untuk diaplikasikan enterprise, dibangun dengan basis API yang plug and play, dan dapat diimplementasikan secara private ataupun publik. Konsensus NEM dibangun berdasarkan algoritme Proof of Importance, menggunakan teknik yang mirip dengan PageRank Google untuk mencegah berbagai serangan terhadap kegiatan transaksi Blockchain.

Beberapa pihak menyatakan bahwa Blockchain mendisrupsi konsep keamanan saat ini karena fitur kriptografi yang mengunci tiap blok serta konsensus yang menentukan satu penulisan data dapat diterima atau tidak. Namun demikian, end point seringkali berhasil dibobol dan pengamanannya tetap menjadi fokus diskusi dalam ICSS. ICSS 2018 merupakan even tahunan yang diselenggarakan ICSF. Tahun ini berhasil mengumpulkan ratusan peserta dan pemakalah dari 11 negara yang menjadikannya forum multistakeholder cybersecurity terbesar di Indonesia.

Yang utama dalam suatu ICO adalah bagaimana Anda sebagai entrepreneur menemukan ide yang out-of-the-box ,memberikan solusi real suatu permasalahan melalui teknologi Blockchain, bukan untuk mengejar uang mudah saja. Ide, eksekusi, dan pemasaran meyakinkan investor ini yang mahal. Dan jika Anda investor tertarik untuk berinvestasi dalam suatu ICO, ingatlah selalu untuk memahami regulasi, model bisnis, pasar, perencanaan, mengenal founder dengan baik, dan memastikan keamanan aset Anda secara legal sebelum menyesal kemudian.


Ini merupakan tulisan kedua dari tiga seri artikel. Tulisan pertama dapat dibaca di sini.

-----

Satriyo Wibowo (@sBowo) adalah sekretaris ICSF dan aktif dalam grup riset Blockchain Nusantara sementara Bayu Dahana seorang ICO Developer. Keduanya adalah anggota Indonesia Blockchain Society



(krs/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed