Senin, 04 Jun 2018 20:59 WIB

Kolom Telematika

Jangan Pakai Blockchain!

Penulis: Satriyo Wibowo & Ery Punta Hw - detikInet
Foto: Internet Foto: Internet
Jakarta - Tren Blockchain sepertinya semakin meningkat di tahun 2018 ini setelah gelombang Bitcoin melanda tahun lalu. Meskipun Bitcoin sempat jatuh 50% nilainya di awal tahun ini, teknologi dibalik Bitcoin mencuri perhatian untuk dapat diimplementasikan pada bidang lainnya.

Benarkah Blockchain dapat menjadi panacea, solusi untuk semua permasalahan? Tulisan bersambung kali ini akan membahas konsepsi dasar Blockchain, apa saja yang harus diketahui sebelum memilih Blockchain sebagai solusi, serta bermacam-macam platform Blockchain dan seperti Blockchain yang berkembang dengan kelebihan dan kekurangannya.

Dalam beberapa pertemuan dengan industri, kami selalu menekankan 2 hal, Blockchain bukan hanya Bitcoin dan Blockchain hanyalah satu model sistem basis data.

Teknologi basis data adalah teknik penyimpanan data baik secara terpusat maupun secara terdesentralisasi. DLT (Distributed Ledger Technologi) merupakan teknologi basis data terdistribusi yang mempunyai struktur data laksana kertas bernomor halaman yang disusun membentuk buku dimana ketika halaman baru diisi, muatan halaman sebelumnya tidak dapat diubah lagi (sedikit beda dengan analogi domino untuk menggambarkan fork.

Blockchain sebagai bagian dari DLT mempunyai karakteristik tambahan kunci sandi (kriptografi) yang mengunci blok satu dengan sebelumnya dalam suatu jaringan peer-to-peer serta model konsensus yang menentukan apakah suatu transaksi penulisan blok (atau halaman buku pada analogi di atas) valid atau tidak sesuai satu aturan validasi.

Platform Blockchain yang berkembang sangat banyak dan secara umum terbagi menjadi platform yang membutuhkan ijin menulis transaksi (permissioned) atau tidak (permissionless) serta platform terbuka siapa pun boleh masuk (public) atau terbatas (private). Hal-hal inilah yang sangat mempengaruhi bentuk konsensus, kerahasiaan data, dan kecepatan transaksi sehingga pemilihan platform sangat menentukan.

Bagan berikut adalah Blockchain dalam ranting teknologi basis data yang disusun kelompok riset Blockchain Nusantara dari beberapa sumber.

Foto: Blockchain Nusantara


Dengan memperhatikan penjelasan tersebut, penulis secara khusus menyarankan untuk tidak menggunakan Blockchain dalam memecahkan permasalahan penyimpanan data dalam kondisi berikut.

1. Jangan pakai Blockchain apabila sistem basis data Anda telah bekerja dengan baik dan tidak ada kelemahan.

If it ain't broke, don't fix it. Sistem yang telah berjalan dengan baik dengan semua SPoF (single point of failure) telah diketahui dan diperbaiki dengan penguatan keamanan dan redundansi, akan sangat mahal jika harus diganti hanya karena mengejar tren Blockchain dan fitur-fitur tambahannya.

2. Jangan pakai Blockchain jika Anda berpikir sistem ini 100% aman serta menghilangkan peranan pihak ketiga

Selalu saja ada pihak ketiga di sini. Siapa yang melakukan penulisan kode pertama? Siapa yang menjadi operator? Siapa yang menjadi validator? Siapa pihak yang mempunyai kewenangan lebih dalam jaringan? Mereka-mereka lah yang memegang 'Trust' dan pada dasarnya adalah pihak ketiga.

Blockchain juga tidak dapat menjamin kebenaran informasi yang dituliskan namun hanya mampu memastikan validasi penulis informasi tersebut. Kunci privat yang disimpan tiap server juga dapat diambil alih penyerang serta dalam beberapa kasus dapat mengubah transaksi dan melakukan fraud.

3. Jangan pakai Blockchain untuk aplikasi yang membutuhkan kecepatan transaksi

Konsensus dan model ijin Blockchain menentukan kecepatan transaksi. Dalam publik Blockchain, tiap server dianggap tidak dipercaya sehingga melahirkan konsensus yang membutuhkan kekuatan pemrosesan data, dan ini menyebabkan rendahnya kecepatan transaksi.

Dalam privat Blockchain, tiap servernya dipercaya sehingga model konsensusnya lebih sederhana, namun tetap saja harus memenuhi algoritma BFT (Byzantine Fault Tolerance). Algoritma ini memastikan sistem konsensus tetap berjalan meskipun terdapat server yang bermasalah, baik karena masalah validasi ataupun masalah jaringan.

Namun demikian, beberapa riset telah menargetkan peningkatan penulisan transaksi di Blockchain menjadi 1 juta tps di tahun 2020 yang artinya jauh melampaui Visa yang saat ini mencapai 24000 tps.

4. Jangan pakai Blockchain untuk solusi internal organisasi

Kekuatan utama Blockchain adalah menghubungkan berbagai macam data dari banyak pemangku kepentingan yang berada di banyak lokasi berbeda menjadi satu data yang dapat diakses bersama. Cukup gunakan DBMS dengan akses VPN untuk kebutuhan internal organisasi Anda atau untuk berhubungan dengan pihak lain sepanjang proses bisnisnya sederhana.

5. Jangan pakai Blockchain sebelum jelas tata kelola antar pemangku kepentingan

Penentuan Use-case yang tepat adalah krusial untuk memulai proyek Blockchain. Dari sinilah identifikasi pemangku kepentingan dan risiko lainnya seperti adanya perubahan proses bisnis, perlunya regulasi atau perjanjian baru, serta perencanaan ke depan, ditemukenali terlebih dahulu.

Seringkali, proses pembuatan tata kelola sistem dengan banyak pemangku kepentingan menjadi bagian yang paling menyita waktu. Kesepakatan data apa saja yang akan dialirkan, siapa saja yang dapat membaca, dan kepastian keamanan data tersebut menjadi perhatian khusus semua pihak.

6. Jangan pakai Blockchain jika Anda tidak memahami peta DLT dan Blockchain

Begitu banyak pihak yang mengembangkan Blockchain dengan berbagai konsep dan solusi membuat kita harus waspada karena platform yang kita pilih sekarang bisa jadi nanti tidak akan cocok menyelesaikan permasalahan baru lainnya di masa depan, sehingga merugikan investasi kita.
Saat ini dirasakan teknologi ini masih berkembang belum matang.

Hal ini terlihat dari belum jelas adanya komunikasi antar platform (kecuali melalui pihak ketiga atau API khusus), serta belum ada satu standar infrastruktur Blockchain dimana cukup 1 core jaringan bisa untuk bermacam aplikasi dengan partisipan atau pemangku kepentingan yang berbeda.

Detail lebih lanjut mengenai peta DLT dan Blockchain akan disampaikan pada artikel berikutnya. Artikel kedua akan lebih banyak membahas permissionless Blockchain yang mendasari industri token atau aset digital (ICO dan cryptocurrency). Artikel ketiga akan membahas permissioned Blockchain khususnya Hyperledger serta teknologi DLT lainnya seperti Corda dan IOTA.

Kesimpulannya, secara umum teknologi basis data terpusat masih memliki kelebihan di sisi kerahasiaan dan kecepatan transaksi, namun Blockchain mengurangi porsi
intermediari, memiliki kehandalan menghadapi serangan, setiap transaksi adalah final, serta dapat dilacak sampai titik awal (genesis).

Dibutuhkan perencanaan dan perhitungan yang matang dalam implementasi Blockchain. Seperti ujaran Sir Winston Churchill, "He who fails to plan is planning to fail"


Penulis, Satriyo Wibowo (@sBowo) adalah sekretaris ICSF dan aktif dalam riset grup Blockchain Nusantara sementara Ery Punta Hw (@phuntos) adalah Penggerak Komunitas Masyarakat Blockchain Indonesia (MaBID) serta aktif dalam pengembangan Inovasi dan Startup Digital.
(jsn/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed