Mantan Teknisi Ungkap Kebobrokan Perusahaan Elon Musk

Mantan Teknisi Ungkap Kebobrokan Perusahaan Elon Musk

Virgina Maulita Putri - detikInet
Jumat, 13 Jul 2018 13:45 WIB
Logo Tesla. Foto: Dina Rayanti
Jakarta - Martin Tripp, mantan teknisi Tesla yang dipecat setelah dituduh melakukan sabotase secara resmi menjadi whistleblower dengan memberikan informasi kepada U.S. Securities and Exchange Commission. Informasi ini menuduh Tesla telah menyesatkan investor dan menempatkan pelanggannya dalam bahaya.

Informasi dari Tripp yang dilaporkan kepada SEC pada 6 Juli, menuduh bahwa Tesla memproduksi baterai yang memiliki lubang dan menempatkannya ke ratusan mobil.

Tesla juga dituduh menurunkan spesifikasi kendaraan sehingga berdampak pada keamanan kendaraan serta menggunakan material bekas di kendarannya untuk memenuhi kuota produksi. Selain itu, Tesla juga dituduh menyesatkan investor dengan melebihkan jumlah mobil Model 3 yang diproduksi tiap minggu sebesar 44%.


Tesla sendiri sebelumnya telah mengatakan bahwa tuduhan Tripp tidak benar. Perusahaan yang didirikan dan dimiliki oleh Elon Musk ini juga menekankan bahwa Tripp bukan seorang whistleblower, tetapi orang yang meretas dan mencuri informasi rahasia.

Tripp sendiri mengaku bahwa ia sering menerima ancaman dan pelecehan sejak melaporkan penemuannya ke publik. Ia bahkan harus berpindah rumah karena ancaman yang tidak henti.

"Menyebarkan kebenaran telah menjadi mimpi buruk. Meskipun kami harus pindah karena ancaman dan pelecehan, baik online maupun offline, keluarga dan saya juga menerima banyak dukungan, yang membuat kami terus majeu," kata Tripp dalam pernyataannya, seperti dikutip detikINET dari TechCrunch, Jumat (13/7/2018).


Tesla sendiri telah menggugat Tripp yang sebelumnya merupakan teknisi di pabrik Gigafactory di Nevada, Amerika Serikat, pada 20 Juni. Gugatan ini berdasarkan tuduhan bahwa Tripp meretas rahasia dagang milik Tesla dan memberikannya kepada pihak ketiga.

Dalam aksinya, menurut Tesla, Tripp menyusupkan software hacking di komputer milik tiga karyawan lain yang secara rutin mengirimkan data-data rahasia. Tesla pun menyebut Tripp sudah mengaku meretas sistem operasi perakitan milik mereka, dan Tripp juga mengeluarkan pernyataan yang salah ke media terkait informasi yang dicuri itu. (jsn/fyk)