Selasa, 10 Jul 2018 12:28 WIB

YouTube Kucurkan Rp 358 Miliar Untuk Lawan Hoax

Virgina Maulita Putri - detikInet
Aplikasi YouTube. Foto: detikINET/Irna Prihandini Aplikasi YouTube. Foto: detikINET/Irna Prihandini
Jakarta - YouTube baru saja mengumumkan bahwa mereka menganggarkan USD 25 juta (Rp 358 miliar) untuk melawan berita palsu di platformnya. Komitmen ini merupakan bagian dari Google News Initiative yang diumumkan pada bulan Maret 2018.

Anak perusahaan Google ini nantinya akan menonjolkan sumber berita yang lebih terpercaya, terutama dalam kondisi setelah adanya breaking news di mana misinformasi dapat tersebar dengan cepat.

Dilansir detikINET dari The Guardian, Selasa (10/7/2018), jika ada breaking news, maka YouTube akan menunjukkan teks pendek tentang berita breaking news dalam hasil pencarian pengguna, sekaligus memunculkan peringatan bahwa berita bisa saja berubah-ubah sesuai perkembangan kondisi.



Jadi sebagai alternatif dari video yang sudah diverifikasi oleh outlet berita yang biasanya membutuhkan waktu yang lama, maka YouTube memilih jalan pintas untuk menunjukkan teks berita menyediakan informasi yang lebih akurat secara lebih cepat.

Tujuan dari tindakan YouTube ini adalah untuk melawan video palsu yang biasanya sering muncul setelah penembakan massal, bencana alam atau kejadian penting dan berskala besar lainnya.

YouTube juga akan menerapkan beberapa tindakan lain untuk meningkatkan konten jurnalisme di platformnya. Seperti mendanai organisasi berita di seluruh dunia untuk membangun 'sustainable video operations', dengan cara seperti melatih staf dan meningkatkan fasilitas produksi.

Selain itu, YouTube sedang menguji coba cara untuk melawan video konspirasi dengan menunjukkan informasi dari sumber pihak ketiga yang terpercaya seperti Wikipedia dan Encyclopedia Britannica. Ini tentu akan mempermudah pengguna untuk mengambil kesimpulannya sendiri ketika mencari video konspirasi umum seperti pendaratan manusia di Bulan.



Langkah YouTube ini mengikuti langkah platform online lainnya yang berkomitmen untuk melawan berita palsu. Seperti WhatsApp yang baru saja mengumumkan akan memberi hibah bagi yang ingin meneliti penyebaran berita palsu dan konten provokatif di platformnya. (fyk/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed