Senin, 21 Mei 2018 06:38 WIB

Ramai 'Ganti Kelamin' Pengguna Transportasi Online China

Virgina Maulita Putri - detikInet
Foto: Gettyimages Foto: Gettyimages
Jakarta - Pengguna wanita Didi Chuxing, aplikasi ride hailing pesaing Uber di Cina, ramai-ramai mengganti gender dan foto profilnya. Hal ini dikarenakan peristiwa pembunuhan seorang penumpang wanita oleh seorang supir pada awal bulan ini.

Wanita-wanita tersebut mengganti profilnya untuk mengesankan bahwa mereka pria. Ada juga yang mengatakan bahwa orang tua mereka memerintahkan untuk mengganti detail profil mereka, seperti dikutip detikINET dari BBC, Senin (21/5/2018).

Selain mengganti gendernya, pengguna wanita juga mengganti foto profilnya. Mereka membagikan profil yang telah diperbarui di situs media sosial, Weibo.

"Aku ingin melindungi diriku. Setelah tragedi itu, aku menjadi takut," kata seorang pelajar Universitas Tsinghua, Xu Yanan, kepada Reuters.

Namun, ada juga pengguna Weibo yang mengatakan bahwa mengganti gender dan foto profil merupakan tindakan yang sia-sia.

"Bahkan jika kamu mengganti gendermu menjadi pria di aplikasi, ketika kamu masuk ke mobil, supirnya akan melihatmu," kata akun TuanziHibiku.



Seperti diketahui, pembunuhan yang terjadi pada awal bulan ini menimpa seorang pramugari di kota Zhengzhou, China. Wanita berusia 21 tahun ini diduga dibunuh oleh pengemudi ketika akan melakukan perjalanan dari hotel bandara ke pusat kota.

Wanita yang tidak diketahui namanya ini menggunakan layanan berbagi tumpangan Hitch. Hitch sendiri dideskripsikan sebagai layanan social ride-sharing yang memungkinkan pengemudi dan penumpang membuat label atau memberi rating satu sama lain berdasarkan tampilan.

Dalam melancarkan aksinya, tersangka pembunuhan ini disebut menggunakan akun milik ayahnya. Sehingga dalam hal ini Didi merasa kecolongan dan telah mengakibatkan satu nyawa melayang.

Atas kejadian ini Didi akan menangguhkan layanan Didi Hitch untuk sementara. Didi pun mengatakan akan menghilangkan layanan carpooling di malam hari dan akan melakukan pemeriksaan pengenalan wajah wajib untuk pengemudi.



Tak hanya itu, Didi juga berencana untuk merekam pembicaraan selama perjalanan sebagai langkah menambahkan tolok ukur keamanan terhadap layanannya. Didi pun telah meminta maaf kepada keluarga korban atas kejadian ini.

Didi mengatakan bahwa mekanisme pengenalan wajahnya rusak dan gagal memverifikasi pengemudi yang diduga membunuh penumpang. (afr/afr)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed