BERITA TERBARU
Selasa, 08 Mei 2018 14:20 WIB

Bill Gates: Bitcoin Menerapkan Teori Bodoh

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Getty Images Foto: Getty Images
Jakarta - Setelah sebelumnya sempat mengatakan Bitcoin bisa menyebabkan kematian, kali ini Bill Gates menghina mata uang digital tersebut karena dianggap menggunakan teori bodoh.

Pendiri Microsoft, Bill Gates, memang dikenal skeptis dengan cryptocurrency, salah satunya Bitcoin. Kali ini, ia kembali menegaskan bahwa dirinya berada di kubu yang bersebrangan dengan para pecinta salah satu mata uang digital paling populer tersebut.

"Sebagai sebuah aset, Bitcoin tidak memproduksi apa-apa, dan kamu tidak seharusnya mengharapkan bahwa nilai Bitcoin akan terus naik. Ini seperti sebuah teori yang benar-benar bodoh dalam investasi," ujarnya.

"Seseorang pernah memberi saya sejumlah Bitcoin sebagai kado ulang tahun, tapi saya menjualnya beberapa tahun setelahnya," ucapnya menambahkan.

Selain itu, ia juga memiliki pendapatnya sendiri terhadap initial coin offering (ICO), yaitu penjualan koin-koin yang baru dikeluarkan. Menurutnya, hal tersebut lebih gila lagi karena sifatnya yang sangat spekulatif.

Sebelumnya, Gates pun sempat mengatakan bahwa pemanfaatan Bitcoin bisa memberikan efek yang sangat mengerikan bagi penggunanya. Salah satu efek tersebut adalah kehilangan nyawanya sendiri.

"Saat ini, cryptocurrency digunakan untuk membeli fentanyl (sejenis penghilang rasa sakit) dan obat-obatan lain, sehingga bisa dikatakan teknologi ini bisa menyebabkan kematian secara tidak langsung," katanya.

Nilai Bitcoin sendiri saat ini berada di kisaran USD 9.300 (Rp 130 juta) per kepingnya. Walau torehannya itu bukan pencapaian terbaik di bulan ini, angka tersebut bisa dibilang peningkatan mengingat sejak pertengahan Maret hingga akhir April lalu nilai Bitcoin selalu berada di bawah USD 9.000.

Meski skeptis dengan Bitcoin, pria terkaya kedua di dunia setelah Jeff Bezos ini tak mengutarakan hal yang sama terhadap blockchain. Sebagaimana diketahui, sistem tersebut merupakan fondasi di balik seluruh transaksi yang dilakukan menggunakan Bitcoin.

Menurutnya, blockchain dapat menghapus peran perantara dalam menciptakan sebuah sistem yang aman dengan rekaman permanen terhadap transaksi antara dua pihak. Selain itu, sejumlah perusahaan pun tengah berupaya menerapkan teknologi tersebut untuk berbagai sektor lain, seperti pengapalan dan perdagangan.

Salah satunya adalah Samsung yang tengah mempertimbangkan untuk menerapkan teknologi blockchain dalam melacak pengiriman logistik secara global. Berdasarkan keterangan Samsung SDS, anak perusahaan yang bertanggung jawab menyediakan kebutuhan TIK pada keperluan logistik, penerapan teknologi blockchain akan memangkas biaya pengiriman sebesar 20%. (asj/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed