Microsoft Bangun Pusat Riset di Indonesia
'Indonesia Harus Punya Konsep Industri Software'
- detikInet
Jakarta -
Indonesia perlu menyiapkan konsep industri software, sebelum Microsoft mendirikan pusat risetnya di Indonesia. Ini penting agar ada aturan main yang jelas.Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki), Djarot Subiantoro, ketika dihubungi detikinet, Selasa (5/7/2005). Menurutnya, konsep tersebut selama ini sudah ada tapi masih bersifat sporadis."Perlu ada kesepakatan nasional dalam hal ini. Negara lain seperti India dan Malaysia sudah memiliki konsep nasionalnya," kata Djarot.Keberadaan konsep industri ini penting artinya karena sebagai pendatang, Microsoft harus mengikuti konsep pengembangan pasar atau industri software yang berlaku di Indonesia. "Akan negatif kalau kita tidak punya konsep, lalu mereka membawa dan menjalankan konsep mereka sendiri," kata Djarot.Aspiluki, menurut Djarot, saat ini sudah menggagas konsep industri yang dimaksud. "Tapi harus ada uji layak dari pihak lain, dan seperti di negara-negara lain perlu endorsement dari pemerintah," ungkapnya.Menyikapi hal tersebut, Djarot menyatakan Aspiluki telah bekerjasama dengan Departemen Komunikasi dan Informatika (Kominfo) untuk pembahasan lebih lanjut. Ketika ditanya kapan konsep itu siap diimplementasikan, Djarot berujar "as soon as posible."Secara pribadi, Djarot menilai positif terhadap rencana pendirian pusat riset oleh Microsoft. Menurutnya, langkah Microsoft ini dapat menunjukkan sisi positif Indonesia yang dipilihnya sebagai salah satu pusat riset. "Dunia luar akan berpikir, pasti ada sesuatu yang potensial di Indonesia sehingga perusahaan besar seperti Microsoft mau berinvestasi," papar Djarot.Selain itu, Djarot menilai hal ini bisa dijadikan peluang bagi Indonesia untuk tidak selalu menjadi target pasar. "Kita perlu mencari peluang agar bisa menjadi suplier," cetusnya."Rencana Microsoft ini diharapkan bisa meningkatkan peran dari pengembang lokal, baik dalam bentuk pekerjaan mereka yang disubkontrakkan ke kita atau memberi nilai tambah terhadap produk-produk Microsoft," tutur Djarot.Kesempatan 'Nebeng'Microsoft seperti diberitakan sebelumnya, akan menandatangani kesepakatan pembangunan pusat pengembangan software di Indonesia.Komitmen tersebut merupakan hasil pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan Bill Gates, Pimpinan sekaligus Kepala Perancang Software Microsoft Corp. Pertemuan tersebut berlangsung saat kunjungan SBY ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Pusat riset software tersebut rencananya akan didirikan di kawasan industri Jababeka. Di kawasan seluas 300 hektar itu, Microsoft akan mendirikan pusat riset, sekolah TI dan kompleks idependen software vendor (ISV) yang merupakan bisnis UKM.Hal lain yang dinilai positif dari rencana Microsoft ini adalah adanya kesempatan 'nebeng' (numpang-red) bagi para pengembang software lokal. "Nebeng di sini harus diartikan positif. Harus ada niat baik dari kedua pihak. Oracle misalnya, saat ini bekerja sama dengan pengembang software lokal untuk membuat aplikasi payroll. Kalau produknya bagus, harusnya ditawarkan ke luar negeri," papar Djarot."Jadi 'nebeng' di sini, jangan sampai kita jadi riset pasar saja. Tapi bagaimana Microsoft memberi kesempatan untuk berkembang bersama," kata Djarot. "Kalau kita sudah kuat, nanti kita bisa bikin produk sendiri," tandasnya. Foto: Djarot Subiantoro. Sumber: detikinet
(epi/)