BERITA TERBARU
Jumat, 13 Apr 2018 18:08 WIB

Telegram Diblokir di Kampung Halaman

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Aplikasi Telegram. Foto: CNN Aplikasi Telegram. Foto: CNN
Jakarta - Telegram harus gigit jari setelah operasionalnya terancam berhenti di negara yang bisa dibilang sebagai 'kampung halaman'-nya sendiri.

Pengadilan di Tagansky, Moscow, Rusia, resmi melayangkan permintaan untuk memblokir Telegram di negara pecahan Uni Soviet tersebut kepada Roskomnadzor, sebuah lembaga nasional yang bertanggung jawab dalam sektor komunikasi dan media massa.

Gugatan tersebut diturunkan lantara Telegram enggan untuk memberikan software yang berisi kunci enkripsi kepada otoritas setempat, sebagaimana detikINET kutip dari Bloomberg, Jumat (13/4/2018). Hal ini dikatakan oleh Yuliya Smolina, hakim yang terlibat dalam kasus tersebut.



Karena posisinya dianggap sebagai operator penyebar informasi di Rusia, Telegram diharuskan untuk menyerahkan kunci enkripsi agar Federal Security Service dapat melacak keterkaitan jejaring sosial tersebut dengan hal-hal berbau terorisme.

Hal tersebut merupakan perwujudan dari keputusan Presiden Vladimir Putin dalam mendeklarasikan perlawanannya terhadap terorisme dengan menandatangani regulasi terkait pada 2016 lalu. Di dalamnya, terdapat keharusan bagi penyedia layanan berbagi pesan untuk memberikan akses bagi pihak yang berwajib untuk mendekripsi pengguna yang terindikasi memiliki keterlibatan dalam aksi terorisme.

Telegram pun sudah melakukan perlawanan dengan menyebut prosedur tersebut tidak tercantum dalam undang-undang. Bahkan, founder aplikasi berbagi pesan tersebut, Pavel Durov, secara terang-terangan menolak untuk memberikan kunci enkripsi kepada pihak berwajib. Hal tersebut pun membuat Telegram mendapat peringatan keras dari Roskomnadzor pada akhir Maret lalu.

Dengan sudah dijatuhkannya keputusan pengadilan Roskomnadzor pun dapat memasukkan Telegram ke dalam daftar hitam dan membatasi aksesnya di Rusia. Hal ini membuat 9,5 juta penggunannya di sana terancam kehilangan akses secara seutuhnya terhadap jejaring sosial tersebut.

Padahal, Telegram baru saja mengumumkan bahwa pihaknya telah memiliki lebih dari 200 juta pengguna di seluruh dunia. Pencapaian tersebut sedikit banyak dibantu oleh keputusannya dalam melakukan initial coin offering (ICO) untuk membuat jaringan blockchain yang dapat menjalankan transaksi mata uang digital secara lebih cepat.



Selain itu, ICO yang mendatangkan USD 1,7 miliar dari para investor mata uang digital di seluruh dunia kepada Telegram juga membuat platform tersebut menanamkan cryptocurrency di dalamnya untuk para user.

Meski tim pengembangan dari Telegram memiliki basis di Dubai, Uni Emirat Arab, sejatinya kebanyakan dari mereka berasal dari Saint Petersburg, Rusia. Bahkan, Durov selaku pendirinya pun juga berasal dari kota tersebut. Tidak mengherankan jika negara ini disebut sebagai 'kampung halaman' dari Telegram. (rns/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed