Rabu, 21 Mar 2018 19:15 WIB

Blockchain Bukan Hanya Soal Bitcoin, Tapi Lebih Dari Itu

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: detikINET/Muhamad Imron Rosyadi Foto: detikINET/Muhamad Imron Rosyadi
Jakarta -
Walau belum menampakkan pertumbuhan pesat, sejumlah perusahaan di Indonesia sudah memiliki teknologi blockchain yang terus dikembangkan. Bahkan, dalam beberapa tahun ke depan, mereka bisa memiliki produk berbasis teknologi tersebut.

Blockchain adalah sebuah teknologi yang memungkinkan untuk menyimpan data yang sama di dalam banyak server sekaligus. Hal tersebut membuat datanya menjadi semakin akurat dan tidak bisa dimodifikasi untuk menghindari pencurian dan penyalahgunaan data, dibandingkan jika informasi itu hanya disimpan di dalam server tunggal.

Di Indonesia, keberadaan blockchain memang terbilang belum dapat diterima sepenuhnya. Hal tersebut diungkapkan Oscar Darmawan, Chairman Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI).

"Kami sudah bicara dengan Menteri Perdagangan, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, BI (Bank Indonesia), OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Kadin Indonesia, dan Asosiasi Fintech Indonesia. Rata-rata mereka yang paham responsnya positif," ujarnya saat ditemui dalam peresmian ABI di Jakarta, Rabu (21/3/2018).



"Tapi, yang banyak ditakutkan itu mereka terpaku dengan cryptocurrency saja. Padahal, itu hanya pemanfaatan kecil saja dari teknologi blockchain," sambungnya.

Ia menambahkan, masih banyak sekali orang yang salah paham dengan blockchain dan cryptocurrency.

"Blockchain merupakan teknologi yang mampu merevolusi hampir semua industri, sebagaimana dengan internet. Financial technology merupakan salah satu diantaranya. Cryptocurrency pun mampu memompa perkembangan teknologi blockchain," jelasnya.

Oscar juga mengatakan, mata uang virtual merupakan salah satu inovasi terbaik di bidang blockchain. Diungkapkan Oscar, mata uang virtual itu memungkinkan kita untuk bisa melacak kemana transaksi itu terjadi dan bagaimana perpindahannya.



"Kita bisa mencegah pemalsuan mata uang karena tidak mungkinnya terjadi duplikasi pada mata uang virtual di dalam teknologi blockchain. Proses pembayaran juga akan lebih transparan," ujar Oscar menambahkan.

Dia pun menjelaskan sedikit mengenai blockchain secara umum. Berdasarkan penjelasannya, teknologi tersebut terbagi menjadi dua, yaitu public blockchain dan private blockchain.

"Public blockchain itu seperti yang masyarakat banyak tahu saat ini, seperti Bitcoin, Ethereum, dan Ripple. Private blockchain itu apa yang dikembangkan oleh perusahaan," tuturnya.

"Kalau public blockchain itu servernya tersebar di seluruh dunia. Kalau kita bicara private blockchain, itu tergantung di mana perusahaannya berlokasi," imbuh Oscar.

Dikatakannya, sejumlah perusahaan di Indoneisa sudah ada yang memiliki teknologi blockchain, walaupun kebanyakan dari mereka masih dalam tahap prototipe. Meski begitu, ia tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat akan ada beberapa perusahaan yang memiliki produk final.
(agt/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed