Satu LSM Berpaling dari Open Source
Microsoft Hibahkan Software ke 18 LSM
- detikInet
Jakarta -
Microsoft sumbangkan piranti lunak ke 18 oganisasi non pemerintah alias LSM. Salah satu penerima bahkan sampai berpaling dari software Open Source. Lewat program sosial Unlimited Potential, Microsoft memberikan sumbangan software beserta lisensinya kepada 18 organisasi nirlaba yang bergerak di bidang sosial. Produk yang disumbangkan beragam, sesuai permintaan dan kebutuhan setiap organisasi. Menurut Tony Chen, Presiden Direktur Microsoft Indonesia, nilai total sumbangan itu mencapai Rp 2,8 Miliar. Sumbangan itu juga mencakup dukungan teknis yang dapat diakses melalui portal Microsoft Unlimited Potential. Seremoni pemberian sumbangan dilakukan di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (19/05/2005).Bagi sebagian lembaga penerima, sumbangan tersebut akan dimanfaatkan untuk operasional mereka sehari-hari. Hal itu, misalnya dikemukakan Permata Harahap dari organisasi Save The Children Indonesia. Save The Children adalah lembaga kemanusiaan yang memperhatikan kesejahteraan anak-anak dan lingkungan sekitarnya. Save The Children menerima sumbangan berupa Microsoft Windows Server 2003, Microsoft Exchange Server 2003, Microsoft Windows XP dan Microsoft Office XP. Menurut Permata software itu akan digunakan di lokasi kegiatan Save The Children di Jakarta, Medan dan Banda Aceh. "Untuk operasional dan terutama untuk komunikasi," tuturnya. Berpaling dari Open SourceSalah satu penerima sumbangan adalah program Information & Communication for Development (ICT4D), yaitu lembaga yang menjalankan program pelatihan teknologi informasi di bawah Yayasan ASEAN. Bantuan kepada lembaga ini termasuk sistem operasi untuk server dan desktop, aplikasi Office hingga aplikasi server untuk e-mail.Menurut Eddy Bahfen, Manajer ICT4D, sebelum ini mereka sempat menggunakan Open Source. Namun kini ICT4D beralih ke software Microsoft. "Tadinya kami pakai Open Source. Linux untuk login server dan mail server. Tapi setelah bertemu dengan Microsoft, semenjak ada ini (sumbangan software -red.) kami pakai Microsoft," ujarnya kepada wartawan seusai acara.Pilihan itu, lanjut Eddy, dilakukan tanpa ada paksaan dari Microsoft. Menurutnya hal itu lebih disebabkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang menjadi target pelatihan ICT4D. "Bukan berarti dari Microsoft, totally tidak boleh pakai Open Source," Eddy menambahkan.Tony Chen juga menampik adanya tekanan dari Microsoft agar lembaga penerima bantuan berpaling dari Open Source. "Bukan hak kami untuk memaksakan teknologi tertentu. Hak sepenuhnya ada pada mereka," tutur Tony seusai acara.Berpaling dari BajakanLembaga lain yang menerima sumbangan piranti lunak itu adalah Wetlands Indonesia, sebuah organisasi yang bergerak di bidang pemeliharaan lahan basah. Dibjo Sartono, Direktur Eksekutif Wetlands Indonesia, mengakui program ini membuat lega lembaganya. Apa sebabnya? Rupanya Wetlands sempat khawatir karena tidak mampu membeli software orisinal. "Sejak Undang-Undang HaKI diberlakukan, kami sempat berpikir berapa besar uang yang harus kami keluarkan untuk membeli software orisinal?" ujarnya dalam acara tersebut.Melalui sumbangan ini, papar Dibjo, Wetlands tidak perlu pusing memikirkan dana untuk membeli software yang diperlukan. Meski demikian ia berharap Microsoft akan melanjutkan program ini di masa depan. Termasuk dalam bentuk keringanan harga bagi organisasi swadaya yang ingin membeli piranti lunak Microsoft. Lembaga Swadaya Masyarakat penerima donasi ini mencakup BirdLife Indonesia, Biotrop, BABAD, CCLI, ICEL, ICT4D Collaboratory, Jaringan Kerja Pemetaan Partisipatif, Konus, LSM Kebudayaan Kerinci, Lembaga Ekolabel Indonesia, Perkumpulan Telapak, Save The Children, Walhi Kalsel, Wetlands, Yayasan Selamatkan Teluk Balikpapan, Yayasan Bahtera Nusantara, Yayasan Silvagama dan Yayasan Kaliandra Sejati.
(wsh/)