Donor \'Ngambek\'
Proyek TI di Aceh Bisa Ganti Haluan
- detikInet
Jakarta -
Proyek infrastruktur teknologi informasi untuk Aceh dan Nias, yang dikerjakan Yayasan Air Putih, kemungkinan akan berubah. Sebabnya? ada donor yang 'ngambek'. Air Putih adalah sukarelawan komunitas Teknologi Informasi (TI) yang membantu pembangunan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (Information Communication Technology - ICT), khususnya Internet, di Aceh dan Nias pasca bencana awal tahun 2005. Tim tersebut, merupakan bagian dari konsorsium yang bertanggung jawab untuk membangun infrastruktur nirkabel pre-WiMax hingga serat optis. Belakangan, Kamis (23/6/2005), tersiar kabar upaya tim terancam gagal akibat tidak dipenuhinya komitmen dari salah satu lembaga donor. Jumat (24/6/2005), detikinet melakukan konfirmasi ke juru bicara Tim Air Putih, Heru Nugroho. Heru tidak menampik kabar tersebut. "Salah satu anggota dari konsorsium (donor-red) yang ada 'ngambek'. Ini dalam tanda kutip ya, karena kalau ngambek kesannya kampungan. Sebenarnya tidak, karena dia punya argumentasi," tutur Heru.Meski demikian Heru tidak bersedia menjelaskan komitmen apa yang telah dijanjikan donor tersebut. Ia juga enggan menyebut nama institusi tersebut. Konsorsium yang menggalang pembangunan infrastruktur ICT di Aceh selain diawaki Yayasan Air Putih sebagai pelaksana, juga didukung oleh Blue Marine dan Intel Corp.Berubah HaluanHeru menduga 'mangkir'-nya donor itu disebabkan waktu pelaksanaan yang boleh dikatakan molor. "Itu cuma salah satu. Pemicu lain, mungkin ada perjanjian dalam konsorsium berkaitan dengan waktu dan lain-lain. Kuatirnya, karena kami dianggap lama merespon, sebagian bantuan diberikan ke yang lain," ujarnya. Menurut Heru, saat ini Air Putih masih melakukan negosiasi dengan konsorsium donor. Akan tetapi ia menduga hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diharapkan. Oleh karena itu Air Putih saat ini mulai menyusun rencana yang berbeda."Kami sudah sepakat, jangan sampai ini gagal. Meskipun tidak seideal yang dulu direncanakan. Rencana Air Putih berada di sana setahun pasti jalan. Tapi kemungkinan Air Putih akan melakukan kompensasi service yang bukan dalam bentuk infrastruktur," ia menegaskan. Salah satu bentuk rencana baru tersebut adalah pembuatan gateway SMS untuk Aceh dan Nias. Untuk itu akan digunakan nomor singkat empat digit berawalan sembilan yang akan diumumkan kemudian. Rencana lain yang akan dilakukan Tim Air Putih, ujar Heru, adalah bekerjasama dengan beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk membuat database rekonstruksi Aceh. "Bukan kependudukan, tapi lebih kepada monitoring bantuan," ia menjelaskan.Selain itu Air Putih juga sedang menjajaki program Community Access Point (CAP) di 30-40 kecamatan. CAP dapat berbentuk kios akses Internet bagi publik--semacam warung internet (warnet). Namun menurut Heru program CAP ini masih dalam proses negosiasi dengan sebuah lembaga internasional calon donor. Saat ini Air Putih telah membangun 150 titik koneksi Internet di Aceh. Menurut Heru pengguna titik akses itu terdiri dari pihak pemerintah, sekolah-sekolah, kampus dan LSM. Ia memperkirakan 70 persen koneksi digunakan oleh pihak lokal dan 30 persen oleh pihak asing.
(wsh/)