Jumat, 03 Nov 2017 11:40 WIB

Laporan dari Singapura

Macet Bikin Warga Jakarta Jadi 'Raja Telat'

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilsutrasi. Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom Ilsutrasi. Foto: Aditya Mardiastuti/detikcom
Singapura - Macet dan parkir menjadi senjata makan tuan bagi para pengendara Jakarta. Datang terlambat pun menjadi hasilnya. Memang, macet menghadirkan beberapa kerepotan bagi warga Ibu Kota.

Survei yang dilakukan Uber, ditemukan rata-rata pemilik mobil di Jakarta menghabiskan waktu 68 menit setiap hari karena macet dan parkir. Persentase tersebut lebih tinggi dari 52 menit rata-rata durasi kemacetan di kota-kota besar Asia.

Sedangkan, rata-rata waktu yang diperlukan untuk mencari parkir bagi pengendara Jakarta ini bisa sampai 21 menit per hari, bahkan 28% diantaranya menghabiskan lebih dari 30 menit per hari.

Adapun tiga kerepotan utama bagi pengendara Ibu Kota ini, yaitu terjebak macet (84%), sulit mencari parkir (60%), dan tingginya biaya parkir (45%).

Hal menarik dari survei Uber ini misalnya soal keterlambatan gara-gara mencari parkir. Pengguna mobil di Jakarta pernah terlewat atau sangat terlambat ke momen penting karena sulit mencari parkir, seperti telat ke acara pernikahan (54%), kontrol kesehatan dengan dokter (36%), wawancara kerja (27%), kedukaan (26%), dan konser musik (22%).

Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Muslich Zainal Asikin mengatakan meningkatnya biaya parkir tidak serta merta membuat masyarakat meninggalkan kendaraan pribadi di rumah.

"Biaya parkir naik tidak menjamin masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi lain. Coba lihat tarif jalan tol, terus naik tapi orant tetap memenuhi jalan tol," ucapnya Muslich.

Menurutnya harus ada kebijakan progresif yang mendorong warga untuk beralih menggunakan transportasi massal, kombinasi multimoda serta solusi-solusi inovatif lainnya yang memberi alternatif yang nyaman.

"Dan memadai agar warga mau mengurangi ketergantungan mereka pada kendaraan pribadi," sebutnya.

Dalam kesempatan ini juga, Uber mengkampanyekan #UnlockingCities, sebuah inisiatif untuk menyoroti mendesaknya solusi masalah kemacetan dan parkir. Begitu juga mengajak masyarakat memanfaatkan ridesharing yang memiliki peran membuka potensi kota-kota dengan berbagi sumber daya.

Kampanye itu ditandai dirilisnya film pendek, di mana di dalamnya diceritakan sesaknya kota gara-gara masing-masing warganya menggunakan kendaraan pribadi. (fyk/fyk)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed