Senin, 21 Agu 2017 13:37 WIB

Tapal Batas

Keceriaan Bocah Perbatasan yang 'Anti-gadget'

Rachmatunnisa - detikInet
Sebagian murid di musala Pos Satgas Pamtas di Entikong (Foto: Rachmatunnisa/detikcom) Sebagian murid di musala Pos Satgas Pamtas di Entikong (Foto: Rachmatunnisa/detikcom)
Entikong - Riuh canda dan gelak tawa menarik perhatian saat detikINET bersama tim Tapal Batas detikcom berkunjung ke sebuah musala di lingkungan Pos Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Entikong, Kalimantan Barat sore itu.

Sekumpulan anak sedang bermain di halaman samping musala. Mereka berebut bisa menaiki ayunan sederhana berupa ban bekas yang diikat pada pohon. Beberapa anak mengganggu temannya yang sedang berayun, menggelitikinya dengan pelepah daun kering. Sementara yang lain tertawa-tawa melihat anak tersebut menahan geli, namun tetap berayun dan belum mau berhenti.

Di teras musala, beberapa anak yang lebih kecil mengerumuni pria berseragam TNI memakai peci. Kalau yang ini, mereka berebut ingin dekat-dekat bapak tentara yang sedang duduk bersila tersebut. Belakangan diketahui kalau TNI itu adalah Praka Zulbakri yang mengajar mereka mengaji di musala.

"Jam istirahat anak yang kecil-kecil ini bukannya pada main tapi ngumpul dekat saya. Habis itu mereka pada cerita, ada aja yang diceritakan. Kadang saya bingung mau dengar yang mana karena semua pada cerita," Zulbakri tertawa, membenarkan pengamatan detikINET.

Keceriaan Bocah Perbatasan yang 'Anti' Gadget Foto: Rachmatunnisa/detikcom


Menyenangkan melihat wajah sumringah anak-anak itu ketika bermain dan berinteraksi. Suasana ceria dan kebersamaan yang diperlihatkan anak-anak itu menularkan aura positif yang bisa dirasakan orang yang melihat.

Sempat juga detikINET mengobrol dengan beberapa anak yang tadi berebut main ayunan, Audiya, Siska, Nova dan Salwa namanya. Dari ngobrol-ngobrol itu, mereka cerita bahwa mereka tak pernah bermain media sosial, smartphone atau gadget lainnya.

Selain karena tidak diberi ponsel oleh orangtuanya, mereka juga belum terpapar internet dan gadget lainnya. Hanya sesekali saja mereka memainkan ponsel milik kakak atau orangtua mereka.

Keceriaan Bocah Perbatasan yang 'Anti' Gadget Foto: Rachmatunnisa/detikcom


"Paling cuma lihat (ponsel) punya kakak. Dia ada punya Facebook. Ibu bilang tidak boleh main (ponsel) masih kecil. Kalau sudah besar katanya boleh," kata Audiya.

Sebenarnya lokasi mereka tinggal dan belajar mengaji bukanlah pedalaman. Berada di sekitar Pos Lintas Batas Negara, wilayah ini sudah terjangkau akses internet dan sinyal telekomunikasi yang baik. Namun anak-anak ini memang tidak tertarik bermain gadget. Setidaknya mungkin belum.

Sementara sebagian orangtua di perkotaan membatasi akses bermain gadget bagi anak-anaknya, di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia ini, para orangtuanya sepertinya tak perlu repot melakukannya.

Hal ini karena mereka lebih suka menghabiskan hari dengan bermain bersama teman-teman. Audiya, Siska, Nova dan Salwa misalnya, selalu pergi ke sekolah dan mengaji bareng. Di luar jam sekolah, mereka sering saling berkunjung.

"Nova punya adik yang masih bayi, lucu sekali dia. Kami suka ke rumahnya. Terus ya kami suka main-main di halaman. Main apa saja," kata Siska yang diiyakan dengan anggukan teman-temannya.

Sementara itu, beberapa anak yang laki-laki mengaku suka bermain di kebun, menemani orangtua bekerja dan memanjat pohon. Kadang mereka juga bersenang-senang di tanah lapang. "Main bola atau main sepeda. Pinjam punya teman (sepedanya) gantian," kata salah satu anak.

Keceriaan Bocah Perbatasan yang 'Anti' Gadget Anak-anak sekolah dekat Pos Lintas Batas Negara (Foto: Rachman Haryanto/detikcom)


Kemajuan era digital dengan banyaknya gadget keren dan canggih memang tidak dapat ditolak. Lambat laun, anak-anak ini pun bakal menggunakan gadget dan internet.

Namun alangkah bijaknya jika gadget digunakan sesuai kebutuhan, agar tak sampai membuat kecanduan gadget atau antisosial. Anak-anak ini memperlihatkan bahwa kebersamaan bersama teman-teman itu mahal.

Momen tertawa, bercanda, ledek-ledekan bahkan tak jarang berkelahi kecil memperebutkan hal yang ada di sekitar, adalah kenangan manis yang akan diingat nantinya.


Ikuti cerita lain dari wilayah perbatasan di Tapal Batas detikcom. (rns/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed