Rusia Blokir LinkedIn, AS Prihatin

Rusia Blokir LinkedIn, AS Prihatin

Fino Yurio Kristo - detikInet
Minggu, 20 Nov 2016 07:00 WIB
Foto: Getty Images
Jakarta - Pemerintah Amerika Serikat prihatin Rusia memblokir akses pada jejaring sosial untuk profesional, LinkedIn. Langkah itu bisa saja nantinya jadi pembenaran untuk menutup akses pada website lain yang beroperasi di Rusia.

Dikutip detikINET dari Reuters, Minggu (20/11/2016), LinkedIn yang bermarkas di AS adalah jejaring sosial besar pertama yang kena blokir karena melanggar aturan baru di Rusia. Aturan itu mensyaratkan perusahaan menyimpan data warga Rusia di server yang berada di Rusia juga.

Di masa mendatang, jejaring sosial lain semacam Facebook dan Twitter bisa juga dicekal jika tak memindahkan data di server yang berbasis di Rusia. Maria Olson, juru bicara kedutaan AS di Moskow pun menyarankan otoritas Rusia segera memulihkan akses LinkedIn, menambahkan kalau pembatasan itu merusak kompetisi dan merugikan warga Rusia.

"Amerika Serikat sangat prihatin dengan keputusan Rusia untuk memblokir akses pada website LinkedIn. Keputusan ini adalah yang pertama dan bisa menjadi preseden buruk untuk menjustifikasi penutupan website lain yang memiliki data user Rusia," sebut Olson.

Di sisi lain, Menteri Komunikasi Rusia Nikolai Nikiforov menyatakan keputusan untuk memblokir LinkedIn dilakukan oleh dua pengadilan. Namun ia menandaskan masalah ini masih bisa diselesaikan.

"Kami mengharapkan dialog konstruktif yang bisa menyelesaikan situasi ini. Semua perusahaan asing harus bertindak sesuai hukum dan banyak yang tidak mengalami masalah dalam menghormati aturan," kata Nikolai.

Dikatakan bahwa aturan baru diterapkan untuk memastikan data pribadi konsumen Rusia dilindungi dengan baik, sesuatu yang hanya bisa dilakukan jika server berada di wilayah Rusia. Tapi banyak kritik berdatangan bahwa langkah itu adalah pembenaran untuk melakukan sensor internet.

LinkedIn yang punya sekitar 6 juta user terdaftar di Rusia tentu menyesalkan keputusan itu dan sedang berkonsultasi dengan regulator setempat. "Kami mempertimbangkan semua cara yang mungkin untuk menyelesaikan situasi ini," kata LinkedIn yang sedang dalam proses diakuisisi oleh Microsoft ini.

(fyk/fyk)