Adalah Wei Xiaoyong yang melakukannya. Profesor ini menyadari kelamaan mengajar bisa bikin mahasiswanya mengalami suntuk. Dan bukannya dimengerti, materi yang diberikannya malah bisa melayang begitu saja bila itu terjadi.
Tak ingin begitu, pria ini pun membuat alat pendeteksi kebosanan. Xiaoyong mengandalkan teknologi facial recognition untuk memungkinkan hal tersebut. Cara kerjanya sederhana, facial recognition yang dipasang di dalam ruangan kelas akan memantau ekspresi wajah mahasiswa selama pelajaran berlangsung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayang tidak ada informasi mengenai parameter seperti apa yang bisa dikenali facial recognition itu sehingga bisa menentukan ekspresi kebosanan mahasiswa. Tapi apapun itu apa yang dilakukan Xiaoyong tampaknya berhasil, dan ia berencana membagi temuannya itu ke universitas lainnya.
Meski dibilang cukup berhasil, tak ada jaminan apa yang ditangkap facial recognition bikinan Xiaoyong akurat. Karena bisa saja mahasiswa yang disorot wajahnya merasa risih dan akhirnya menunjukkan ekspresi yang dianggap mengalami kebosanan oleh alat tersebut.
Di sisi lain, faktor eksternal juga bisa mempengaruhi ekspresi seseorang. Sehingga bisa memberikan hasil yang salah bagi facial recognition Xiaoyong.
(yud/ash)