Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Para Pentolan Teknologi Ramal Kematian Smartphone

Para Pentolan Teknologi Ramal Kematian Smartphone


Fino Yurio Kristo - detikInet

Friends group having addicted fun using mobile smart phone - Close up of people hands sharing content on social media network with smartphone - Technology concept with millenials online with cellphone
Ilustrasi menggunakan smartphone. Foto: Getty Images/iStockphoto/ViewApart
Jakarta -

Smartphone masih menjadi perangkat utama manusia dan takkan tergantikan dalam waktu dekat. Akan tetapi beberapa petinggi teknologi ternama menyebut smartphone berpotensi tergantikan oleh gadget lain yang lebih segar.

Terbaru, CEO Snap Evan Spiegel bertaruh konsumen sudah begitu lelah menatap layar HP sehingga akan rela membayar lebih dari USD 2.000 untuk kacamata augmented reality (AR). "Hampir 20 tahun sejak peluncuran iPhone, orang-orang kini siap memandang teknologi komputasi dengan cara berbeda," kata Spiegel yang dikutip detikINET dari CNBC.

Salah satu pendiri Snap tersebut memperkenalkan Specs, perangkat AR pertama dari perusahaannya yang ditujukan untuk masyarakat luas. Dibanderol USD 2.195, harga Specs lebih dari 15 kali lipat lebih mahal ketimbang Spectacles, kacamata Snap seharga USD 130 yang hanya berfungsi sebagai kamera, diluncurkan tahun 2016.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Specs benar-benar menghadirkan cara menikmati teknologi komputasi secara bersama-sama melalui pengalaman berbagi di dunia nyata, yakni dengan melihat lurus ke depan melalui lensa tembus pandang, alih-alih menatap layar pekat," ujar Spiegel. Perangkat ini rencananya mulai dikirim akhir tahun ini di Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.

Ia yakin ada era baru setelah masa jaya smartphone. "Makin banyak orang mulai mempertanyakan kembali hubungan mereka dengan layar," ungkapnya. Ia mencontohkan beberapa faktor seperti nyeri leher akibat terus menunduk menatap layar ponsel atau munculnya perasaan mereka kerap melewatkan berbagai momen berharga sehari-hari.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, CEO Qualcomm Cristiano Amon juga meyakini kacamata pintar akan menyaingi smartphone. Menjamurnya agen AI dan berubahnya cara kita menggunakan aplikasi di masa depan dapat mengubah interaksi orang dengan smartphone, serta menciptakan peluang bagi jenis perangkat baru untuk meledak.

"Ponsel akan berpusat di sekitar agen. Kelas perangkat yang baru juga akan berpusat pada agen. Dan agen inilah yang akan memahami niat manusia dan akan melakukan banyak hal untuk Anda, jadi ada pergeseran mengenai apa yang menjadi titik pusatnya," jelas Amon, seraya menambahkan ponsel takkan menghilang sepenuhnya.

Ia optimis terhadap kacamata pintar yang berpotensi menyaingi smartphone. Pengiriman kacamata pintar saat ini puluhan juta"per tahun. Beberapa tahun ke depan Amon memprediksi angkanya ratusan juta dan sebesar pasar HP.

Sebelumnya, CEO Meta Mark Zuckerberg sudah menyuarakan prediksi yang sama. Dalam visinya sedekade ke depan, perangkat wearable ini secara alami akan menggantikan HP, menawarkan kebebasan lebih bagi pengguna dan mengurangi waktu menatap layar.

Lupakan kebiasaan terus-menerus menggenggam HP atau menunduk hingga leher pegal untuk scrolling, kacamata pintar menjanjikan pengalaman hands free dengan pandangan tetap lurus ke depan, mendefinisikan ulang cara berinteraksi dengan teknologi.

"Miliaran orang mengenakan kacamata atau lensa kontak untuk mengoreksi penglihatan. Dan saya rasa kita sedang berada di momen yang mirip dengan saat ponsel pintar pertama kali muncul, di mana jelas (saat itu) hanya tinggal menunggu waktu sampai semua ponsel lipat beralih menjadi ponsel pintar," ujar Zuckerberg.

"Sulit membayangkan dunia beberapa tahun lagi di mana sebagian besar kacamata yang dikenakan orang bukanlah kacamata AI," imbuhnya.




(fyk/asj)






Hide Ads