Kamis, 28 Jul 2016 12:58 WIB

Anak Cimahi Bikin Rumah Pintar

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: detikINET/Rachmatunnisa Foto: detikINET/Rachmatunnisa
Jakarta - Mengingat fungsinya yang membuat rumah semakin aman, nyaman dan efisien, konsep rumah pintar akan semakin dicari dan menjadi masa depan. Itu sebabnya, empat mahasiswa asal Cimahi ikut mengembangkan rumah pintar.

Adalah Septia Permana, Mugi Ariz Firdaus, Budi Pamungkas dan Delly Fathurachman yang tergabung dalam tim bernama Vatriot, mengembangkan DYRECS singkatan dari Dynamic Residential Control System.

"Artinya, aplikasi yang dapat mengendalikan peralatan rumah dari perumahan-perumahan oleh satu aplikasi dengan data yang dinamis," kata Septia, mewakili teman-temannya.

Aplikasi ini terhubung melalui koneksi internet ke sensor dan CCTV yang ditempatkan pada sejumlah titik di rumah. Melalui aplikasi di smartphone atau web, pengguna misalnya bisa membuka atau menutup keran air, mengontrol listrik, menyalakan AC atau kipas angin atau mengetahui kondisi rumah dari jarak jauh.

"Contohnya dengan adanya sensor temperatur ruangan, kita bisa memantau suhu ruangan. Kalau terdeteksi panas bisa nyalakan kipas angin dari jauh. Jadi ketika datang ke rumah suhunya sudah nyaman," papar Septia.



Konsep semacam ini memang bukan hal yang baru. Di luar sana ada banyak orang yang juga mengembangkan sistem rumah pintar untuk hunian nyaman. Nah, tim Vatriot punya satu fitur yang jarang, bahkan mungkin belum ada di konsep rumah pintar yang sudah ada sebelumnya.

Rumah pintar DYRECS diintegrasikan dengan sistem pembayaran digital Doku. Ini akan memudahkan penghuni rumah ketika akan melakukan pembayaran listrik, air atau kebutuhan rumah lainnya.

"Jadi gak akan kelupaan. Ada notifikasinya. Misalnya udah waktunya bayar listrik atau air. Bisa langsung bayar dari mana saja dari ponsel atau buka aplikasi di web-nya," terangnya.

DYRECS memiliki fitur-fitur antara lain kontrol lampu, realtime CCTV monitoring, kontrol kipas, kontrol alarm pintu, monitoring suhu, monitoring kelembaban, kontrol terminal, autofeeder dan scheduler, serta pengisian air otomatis.

Tim Vatriot jadi juara favorit


Proyek DYRECS sukses memikat juri kompetisi Indonesia Internet of Things Challenge 2016 yang digagas Doku bekerjasama dengan developer hub asal Bandung, DyCodeEdu.

Menjadi juara favorit, tim Vatriot mendapatkan hadiah uang tunai Rp 5.000.000, mentoring monetisasi aplikasi dan dukungan akses integrasi dengan layanan Doku.

Saat ini, DYRECS sudah diterapkan pada sebuah rumah di Bandung. Tim Vatriot masih terus mengembangkannya, termasuk melakukan persiapan untuk integrasi dengan layanan Doku.

"Kendalanya mungkin ketika pemasangan di sebuah rumah, itu harus mulai dari awal. Rumah kan udah siap. Waktu mau masang alat ini harus narik kabel-kabel lagi," tutupnya. (rns/ash)