Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Agar Otak Encer, Tidur Siang Jadi Budaya Karyawan Startup

Agar Otak Encer, Tidur Siang Jadi Budaya Karyawan Startup


Fino Yurio Kristo - detikInet

Foto: Reuters
Beijing - Karyawan yang suka tidur siang di kantor sering dicap malas. Namun di banyak perusahaan startup di China, hal itu adalah biasa. Bahkan kantor sering jadi tempat tinggal.

Dai Xiang, entrepreneur teknologi di Beijing yang baru saja mendirikan startup cloud computing BaishanCloud, belum lama ini membuka kantor. Salah satu hal pertama yang dilakukannya adalah memastikan ada 12 kasur yang bertebaran di area kantor.

"Di bidang teknologi, aktivitas otak banyak dilibatkan. Karyawan membutuhkan waktu untuk menemukan inspirasi. Area untuk beristirahat yang kami sediakan bukan hanya buat tidur di malam hari, siang hari juga oke," kata Dai yang detikINET kutip dari Reuters.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Intinya adalah, tidak masalah karyawan tidur atau tinggal di kantor selama mereka mampu membereskan pekerjaannya sesuai deadline. Bisnis startup yang sedang booming di China memang membuat karyawan dituntut bekerja keras.

"Pertumbuhan perusahaan internet China begitu cepatnya. Saya telah mendatangi Amerika Serikat dan lingkungan kompetitif di sana bahkan tidak seintens di China," kata Cui Meng, General Manager di startup data bernama Goopal.

Ia mengatakan, programmer di perusahaannya selalu bekerja lembur setiap hari. Agar tidak terlalu stres, mereka diizinkan tidur siang dan juga tidur malam di kantor. Bisa di kursi atau di sofa yang disediakan.

Beberapa perusahaan teknologi mengizinkan karyawan tinggal di kantor selama hari kerja. Lu Zhanyu yang bekerja di startup DouMiYouPin di Beijing misalnya, memilih tinggal di kantor dari hari Senin sampai Jumat. Baru saat weekend, dia pulang ke rumah.

Dari mandi, makan dan tidur semua dilakukannya di kantor. "Kami harus bangun setengah sembilan pagi karena karyawan yang lain mau datang," tutur Lu.

Meski dibayar lebih dan bisa menghemat karena tinggal di kantor, tetap ada konsekuensinya. Misalnya merindukan keluarga atau jadi jarang bersosialisasi. Banyak juga yang kesulitan punya pacar.

"Anak-anakku kadang merindukanku. Itulah yang membuatku sedikit merasa bersalah," kata salah seorang karyawan. (fyk/ash)
TAGS







Hide Ads
LIVE