Jangan bayangkan lab komputer ini tampil dengan ruangan besar, perangkat paling canggih dan didukung dana puluhan atau bahkan ratusan jutaan rupiah. Sebab sesuai namanya, sumber daya yang diinvestasikan untuk membangun lab komputer ini terbilang mini.
Lab komputer mini tersebut dibangun di SD Negeri Regol 10 Garut. Dalam implementasinya, mereka didukung oleh komunitas TIK STEAM Club Indonesia yang berlokasi di Garut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bekerja sama dengan sekolah yang memiliki infrastruktur ruangan serta murid peserta praktikum. STEAM Club berupaya agar lab ini dapat menjadi contoh solusi bagi sekolah lainnya bahwa praktikum TIK untuk seluruh siswa itu tidak perlu biaya besar.
Β Β Β Β
Menurut Dewis Akbar dari STEAM Club Indonesia, misi dari lab komputer mini sebenarnya sederhana. Yakni dapat menjadi solusi agar di masa depan seluruh siswa SD dapat lulus sekolah dengan membawa bekal keterampilan dasar TIK.
Sebab harus diakui, sekolah-sekolah dasar negeri di daerah masih melihat lab komputer itu sebagai sesuatu yang mewah. Memang saat ini ada dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) namun itu tak cukup untuk belanja satu set lab komputer konvensional yang lengkap. Belum lagi soal isu keamanan sekolah.
Sampai akhirnya Dewis dan teman-teman dari STEAM Club memilih membangun lab komputer mini dengan Raspberry Pi sebagai sarana praktikum siswa SD Negeri Regol 10 Garut. Β
"Justru karena keterbatasan, saya jadi kepikiran untuk menggunakan Raspberry Pi yang ukurannya kecil sehingga cukup menggunakan ruangan yang ada," kata Dewis saat berbincang dengan detikINET.
Ia melanjutkan, dengan ukurannya yang mini maka seluruh perlengkapan dapat disimpan di pojok ruangan dan tidak memerlukan ruangan tambahan.
![]() |
Praktikum biasanya dilakukan di ruang guru agar tidak terlalu jauh mengangkut monitor, bila sedang ada rapat atau lainnya, perlengkapan lab komputer mini dipasang di kelas bawah. Perlengkapan disimpan di ruang guru karena di sana satu-satunya ruangan yang dilengkapi jendela berteralis dan gembok ganda.
"Dulu kan baru punya beberapa unit untuk dioprek anak yang aktif di kegiatan TIK saja. Monitornya pun cuma dua unit. Nah, waktu cerita tentangΒ STEAM Club masuk detikcom kan kami mendapat cash Rp 11 juta. Jadinya kami tambah monitornya jadi 5 dan Raspberry Pi-nya juga," kata Dewis.
"Kenapa 5? Karena praktikumnya dibuat beberapa shift. Itu terilhami ketika saya praktikum komputer tahun 1996, kelas 1 di SMAN 1 Garut. Komputer sedikit bisa cukup untuk 1 angkatan," imbuhnya.
Sampai akhirnya, sekarang STEAM Club bisa memfasilitasi 67 siswa dari 2 SD yaitu SDN Regol 10 dan SDN Regol 8. Dimana ini juga sebagai hasil dari penerapan konsep shared resources. Tidak perlu tiap sekolah punya satu lab, sehingga biaya investasi sarana per anak bisa lebih ditekan lagi.
![]() |
Hasilnya?
Meski punya modal mini namun dampak yang dihasilkan lab komputer ini terbilang menggembirakan. Selama 3 minggu praktikum, dengan frekuensi dua kali pertemuan dalam seminggu, saat ini para siswa telah terbiasa menggunakan sistem operasi Linux Raspbian, browsing internet di Linux, mengetik dokumen sederhana dengan LibreOffice Writer, mengkopi file ke USB Flashdisk dan mencetak di komputer Windows yang terhubung ke printer.
Selain itu secara kuantitatif, rata-rata kecepatan mengetik anak-anak juga telah meningkat dari 12,71 KPM (kata per menit) menjadi 17,12 KPM.
"Ini baru 3 minggu, kami sangat penasaran seberapa jauh nantinya tingkat familiarity anak-anak setelah misalnya 1 semester atau bahkan 1 tahun," ungkas Dewis, dengan penuh semangat.
Terlebih, perubahan ini terjadi dengan segala keterbatasan yang ada. Termasuk menekan dari segi biaya, dimana untuk 1 unit workstation lab komputer mini butuh sekitar Rp 1,5-2 juta. Sehingga pengadaan 5 unit untuk praktikum dapat dimulai dengan biaya Rp 7,5 jutaan.
Sementara biaya tagihan listrik juga tak mengalami kenaikan yang signifikan lantaran komputer mini Raspberry Pi hanya membutuhkan daya 2-3 watt ketika pemakaian normal ditambah monitor LCD di kisaran 10-15 watt per workstation.
![]() |
"Lab Komputer Mini yang sekarang digunakan adalah hasil akumulasi aset selama 2 tahun. Berbagai dana serta perlengkapan sumbangan para donatur dikumpulkan dan diinvestasikan agar sedemikian rupa kegiatan TIK dapat dinikmati oleh seluruh siswa".
"Alhamdulillah orang tua siswa bersedia berkontribusi dengan iuran dana operasional serta perawatan alat sebesar Rp 20 ribu /bulan atau Rp 2500/praktikum. Bahkan bisa jadi akumulasi dana perawatan dalam 1 atau 2 tahun kemudian dapat digunakan untuk pengadaan lab komputer mini di SD tetangga," Dewis menandaskan.
(ash/rns)


