Startup yang dicari bukan sembarang startup. Melainkan yang benar-benar berkualitas. Itu sebabnya, usaha untuk mencarinya pun juga tidak boleh main-main.
Setelah mendapat amanat dari Presiden Joko Widodo, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara pun langsung gerak cepat menggandeng para pegiat startup dan inkubator.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lantas, bagaimana strategi Yansen dkk untuk mewujudkan misi tersebut? Ia pun angkat bicara saat ditemui di sela acara Indonesia E-commerce Summit & Expo di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Serpong, Rabu (27/4/2016).
"Untuk mewujudkan itu, kami telah menyusun sebuah roadmap yang terdiri dari talks, workshop, hackathon, bootcamp dan inkubasi," papar Yansen.
Menurutnya, yang mau ditunjukkan dari program ini adalah proses dari nol sampai inkubasi, dan hanya yang ikut semua kegiatan yang ada dalam program ini yang terhitung sebagai 1.000 startup tersebut.
"Kenapa begitu? Karena yang kami mau tekankan adalah pembinaan, yang dicari bukan startup karbitan, bukan startup jadi-jadian," tegas pria berkepala plontos ini.
"Kami ingin menyebarkan virus startup teknopreneur, sehingga dapat menjadi wabah yang bisa menjangkiti seluruh wilayah Indonesia," ucapnya lebih lanjut.
Geber di 10 Kota
Yansen memaparkan, program seribu startup ini adalah program nasional. Itu sebabnya, konsentrasi pencariannya bukan hanya di Pulau Jawa saja, tapi juga di kota-kota besar lainnya secara nasional.
"Maka di 10 kota itu kami akan bangun innovation hub yang terdiri dari co-working space dan inkubator," ujarnya. "Kami akan membangun ekosistem di 10 kota itu mulai dari akademisi, bisnis, government, media, dan komunitas. Istilahnya, ABG plus plus," jelasnya sambil bercanda.
Adapun 10 kota yang sudah dijajaki sejak awal 2016 ini adalah Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Malang, Medan, Makassar, Pontianak, Denpasar, dan Surabaya.
"Itu baru tahap awal saja. Nantinya tidak hanya di 10 kota, tapi mungkin bisa 50 kota secara bertahap," pungkasnya. (rou/fyk)