"Di Amerika, begitu lama transportasi sewaan sangat diregulasi hingga mencapai poin menghambat kompetisi. Kurangnya kompetisi ini, dipicu donasi perusahaan taksi pada politisi lokal, membuat layanan taksi pada konsumen menurun," demikian pendapat kolumnis Forbes dan peneliti industri, Jared Meyer.
"Sedangkan Uber dan juga layanan ride sharing lain menguntungkan baik konsumen dan pengemudi, sekarang maupun dalam jangka panjang. Uber akan terus menghadapi kompetisi dan takkan memonopoli industri transportasi sewaan, tidak seperti taksi yang terlalu dilindungi pemerintah," sebutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Uber mengembangkan layanan ke area yang sebelumnya kurang terjangkau. Data menunjukkan Uber menjangkau ke warga berpendapatan rendah di New York. Layanan ride sharing bisa menyediakan hal seperti ini, terutama ke kawasan penduduk dan di tengah malam di mana layanan taksi kurang bisa diandalkan dan transportasi umum langka," tambah Jared.
Namun memang tak semua pro pada Uber, banyak juga yang curiga. Beberapa menilai tujuan Uber sebenarnya hanyalah mengeruk keuntungan, sesuai dengan misi pemodal besar di belakangnya. Untuk awalnya mereka bakar uang demi ekspansi, tapi di masa depan mungkin meningkatkan tarif atau efisiensi ketat demi menghasilkan profit. Misalnya dengan mengurangi pendapatan pengemudi.
"Rencana Uber itu sederhana, mereka ingin memasang tarif serendahnya untuk meningkatkan permintaan, dengan menarik minat konsumen yang dulunya memakai mobil sendiri atau transportasi umum. Dan untuk melakukannya, mereka mau membakar banyak uang," tulis Evgeny Morozov di media Guardian.
"Kita mungkin menghemat sedikit uang, namun pembuat dan investor aplikasi baru ini bertujuan untuk menghasilkan jutaan dolar. Teknologi baru ini memang memudahkan, namun layanannya menjadi sangat menguntungkan ketika pembuatnya mengetahui cara untuk menghindari pajak, regulasi atau asuransi yang menjebak kompetitor tradisional," ketus Andrew Leonard dari media Salon.
(fyk/ash)