Padahal, mengacu dari data Bank Indonesia, Direktur Bina Usaha Perdagangan Kementerian Perdagangan Fetnayeti mengungkapkan bahwa transaksi jual beli online di Indonesia pada tahun 2014 cuma sebatas Rp 34,9 triliun.
"Kemendag sangat mendukung usaha perdagangan melalui online atau dikenal dengan e-commerce. Dari angka Rp 34,9 triliun, diprediksikan tahun ini akan meningkat menjadi Rp 224,9 triliun," ujar Fetnayeti dalam konferensi pers Harbolnas 2015 di hotel Ritz-Carlton, Kuningan, Jakarta, Selasa (8/12/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dibandingkan retail keseluruhan, retail online baru sekitar 0,6-0,7%. Adanya Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) menjadi tugas kita bagaimana bisa mendorong retail perdagangan online yang bisa memangkas distribusi pemasaran perdagangan di offline," lanjutnya.
Terlebih, untuk mendirikan ritel online tidak diperlukan biaya yang besar seperti offline. "Mereka tak perlu kantor yang terlalu besar, gudang besar. Cukup pengelolaan situs atau website yang tepat, sehingga konsumen dapat berbelanja dengan nyaman,β kata Fetnayeti.
Maka dari itu, adanya Harbolnas 2015 diharapkan mampu menumbuhkan persentase jumlah pemain ritel dari yang di bawah 1% menjadi 5%. "Kami berharap dalam dua atau tiga tahun ke depan, kontribusi perdagangan online bisa mencapai 5%," pungkasnya.
Singkat kata, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mendukung dihelatnya Harbolnas. Kemendag meyakini bila Harbolnas 2015 mampu mendongkrak nilai transaksi jual beli online secara drastis. Sementara itu, bila melihat dari jumlah pemain ritel online, Fetnayeti menyatakan belum mengalami peningkatan signifikan.
(ash/ash)