Saat ini seseorang meminta saran atau bertanya ini-itu kepada telepon selulernya bukanlah hal asing. Padahal di masa lalu hal semacam itu bisa dianggap gila dan mengada-ada.
Belakangan bahkan muncul pula tren machine learning, yang membuat mesin dapat "belajar" dari data dan pengalaman. Maka ada saja yang menduga masa-masa seperti film sains fiksi, di mana ada sosok kecerdasan buatan berwujud robot, bisa segera terwujud. Pada titik ekstrem, sebagaimana juga di film-film ala Hollywood, jangan-jangan sampai mengetengahkan duel robot jahat versus manusia!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini masalah sains fiksi. Dan nyaris semua film sains fiksi pada akhirnya memunculkan robot jahat dan manusia baik. Saya pikir tidak bakal seperti itu karena saya pikir manusia tidak akan membuat robot jahat, cuma film yang membuatnya. Itu pendapat saya pribadi," ucapnya dalam dalam video conference ketika menjawab salah satu pertanyaan dalam acara The Magic in the Machine Google yang ikut dihadiri detikINET di Tokyo, Jepang.
"Dan banyak orang berpikir bahwa topik bahasan kita ini adalah mengenai robot. Itu tak ada kaitannya dengan robot melainkan layanan di internet, informasi-informasi yang membuat Anda semakin cerdas," lanjutnya merujuk pada perkembangan machine learning saat ini.
"Sehubungan dengan film, itu merupakan drama penggambaran masa depan. Ada orang-orang di industri saya yang percaya dalam 15-20 tahun lagi akan ada jenis kecerdasan komputer yang bisa menyaingi kecerdasan komputer," masih kata Schmidt.
"Tapi saya akan beri contoh simpel. Ketika orang ditanya ingin robot macam apa, nomor satu adalah robot yang bisa membersihkan dapur. Itu benar-benar yang mereka katakan.
Robot itu, yang diinginkan membenahi piring-piring, membersihkan meja, dan mengatur bunga dan lainnya, pada akhirnya jadi robot yang amat berbeda. Jadi kita masih amat jauh dari kecerdasan buatan (robot) macam itu. Dan menurut saya itu cuma sains fiksi," bebernya.
(krs/rou)