Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Baidu: Aplikasi Gratisan Masih Seksi Luar Dalam

Baidu: Aplikasi Gratisan Masih Seksi Luar Dalam


Ardhi Suryadhi - detikInet

Direktur Baidu Indonesia Bao Jianlei (rns/detikINET)
Jakarta -

Apapun hal gratis biasanya langsung diburu. Termasuk bagi aplikasi mobile gratisan yang ternyata masih seksi luar dalam.

Luar dalam di sini maksudnya adalah, aplikasi gratisan masih sangat diminati pengguna. Di sisi lain, ia bisa menjadi ladang pendapatan bagi developer lantaran dapat menjadi etalase iklan dan in-app purchase.

Menurut Iwan Setiawan, Manager Marketing Baidu Indonesia, data terakhir JfK menyebutkan bahwa presentase peminat untuk aplikasi gratisan masih tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara jika berkaca dari China, aplikasi berbayar justru banyak yang beralih untuk menjadi aplikasi freemium. Dimana aplikasi tersebut gratis untuk di-download, tetapi di dalamnya menawarkan penjualan beragam item.

"Kalau di Indonesia, aplikasi gratisan masih sangat diterima dan paling banyak di-download. Apalagi di Android, tapi kalau kita melihat di iOS sedikit berbeda, karena dari device berbeda kelas dan penggunanya," kata Iwan saat berbincang dengan detikINET.

Terkait aplikasi gratisan, developer jangan lantas khawatir untuk menangguk pendapatan. Sebab saat ini, iklan bisa menjadi andalan developer untuk memonetisasi aplikasinya.

Namun memang, tak semua aplikasi dilirik oleh pengiklan. Ada satu faktor penting yang harus dimiliki agar pengiklan mau antre tampil di aplikasi tersebut. Yakni jumlah pengguna.

"Sederhana saja, dilihat dari user yang menggunakan aplikasi tersebut. Jika banyak yang men-download dan menggunakan pasti menarik bagi pengiklan," kata Iwan.

Tak ada batasan minimal berapa jumlah pengguna yang dikategorikan 'banyak' di sini. "Contohnya, ada satu aplikasi yang saat ini punya pengguna harian 30 ribu, dimana pengembangnya bisa memonetisasi USD 300 per hari atau sekitar USD 9.000 per bulan dari aplikasi tersebut," ia melanjutkan.

Jadi bagi aplikasi gratisan, mengeruk jumlah pengguna sebanyak-banyaknya adalah suatu target yang harus dicapai. Setelah itu baru bisa bicara monetisasi alias bagaimana meraup pendapatan dari aplikasi yang dibuat.

Baidu sendiri saat ini tengah giat mengkampanyekan DU Ad Platform (DAP). Ini adalah advertising platform yang dikembangkan untuk membantu para pengembang aplikasi mobile di Indonesia dalam melakukan monetisasi melalui iklan pada aplikasi mereka.

Direktur Baidu Indonesia Bao Jianlei mengungkapkan, dengan mengintegrasikan DAP pada aplikasi mereka, pengembang dapat bertindak sebagai publisher iklan. Sementara itu, Baidu akan bertindak sebagai pihak yang menyalurkan iklan-iklan untuk ditampilkan pada aplikasi yang telah dilengkapi dengan kode DAP tersebut.

DAP diklaim takkan memberatkan aplikasi karena berukuran kecil, cuma 171 KB, dan data trafik bandwidth yang rendah untuk advertising.

"Baidu berharap DAP dapat menjadi solusi yang efektif bagi para pengembang aplikasi lokal yang ingin meningkatkan pendapatan mereka melalui iklan. Melalui teknologi ini, selain ingin membantu dan merangkul lebih banyak pengembang aplikasi sebagai mitra, kami juga ingin melihat lebih banyak lagi pengembang aplikasi lokal yang dapat menjangkau target penggunanya di luar Indonesia," jelas Bao Jianlei.

(ash/fyk)







Hide Ads