Menurut sang desainer, Rinaldy, Lady Warrior mewakili citra wanita pejuang dalam arti wanita yang berani mengubah diri untuk menghadapi berbagai tantangan dalam hidup, dengan memanfaatkan kepintarannya. Kolaborasi Lady Warrior dengan teknologi semakin menguatkan citra tersebut.
Teknologi wearable di fashion itu benar-benar mampu melengkapi, mempercantik, dan menonjolkan sisi smart. Berkat ini saya jadi bisa membuat sesuatu yang lebih dan lebih, ujar Rinaldy di galeri miliknya di Penjaringan, Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perangkat yang melengkapi hasil karya Rinaldy ini kelebihannya terletak di konektivitasnya yang bisa diakses secara nirkabel. Martin menggunakan jalur WiFi untuk mengontrolnya via layar ponselnya. Ya, segala fungsi perangkat yang tertanam di Lady Warrior bisa dikendalikan hanya dengan seujung jari.
Kami pakai (SoC) Intel Edison yang diprogram menggunakan Intel IoT XDK. Seluruh fungsinya bisa diakses lewat layar ponsel yang terhubung dalam satu jaringan WiFi bersama (komputer mini) NUC yang jadi servernya, kata Martin.
Penasaran pemanis teknologi apa yang ada di Lady Warrior? Jadi salah satu bagian menarik Lady Warrior terletak di bagian visor yang menutupi wajah. Kelebihan visor ini memiliki motif-motif cantik yang dihasilkan lampu-lampu LED. Yang mana untuk menyalakan atau mematikan lampu-lampu LED tersebut bisa diakses dari layar ponsel.
Tapi tak cuma sampai di situ daya tariknya, visor tersebut juga bisa terbuka dan tertutup sendiri. Ya, lagi-lagi fungsi ini bisa diakses melalui layar ponsel sehingga mudah dilakukan. Teknologi berbasis Intel Edison inilah yang disebut Rinaldy sampai bikin penonton Jakarta Fashion Week 2015 yang digelar pada 30 Oktober lalu sampai melongo melihatnya yang kemudian disusul tepuk tangan riuh.
Ini sudah sangat membuktikan kalau potensi IoT di dunia fashion Indonesia sangat besar. Apalagi saat ini juga sudah cukup banyak konsumen Indonesia yang tertarik dengan karya-karya desainer lokal, pungkas Rini Hasbi, Marketing Director Intel Indonesia.
(yud/ash)