Kamis, 22 Okt 2015 10:26 WIB

Realita Penggunaan Internet oleh Perempuan di Indonesia

Ardhi Suryadhi - detikInet
Ilustrasi (gettyimages) Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Penelitian terbaru menunjukkan bahwa 36% warga berpenghasilan rendah di kota Jakarta menggunakan internet, termasuk 50% laki-laki dan 31% perempuan yang disurvei. Hambatan terbesar bagi perempuan adalah rendahnya tingkat literasi dan tingginya biaya untuk mengakses internet.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Web Foundation (didirikan oleh penemu Web, Sir Tim Berners- Lee) bersama dengan ICT Watch yang bekerja sama dengan LPPM-LSPR (Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat – London School of Public Relation) menunjukkan bahwa penyebaran ponsel yang pesat masih belum cukup untuk membuat perempuan mengakses internet, atau untuk memberdayakan perempuan dengan teknologi.

Penelitian ini didasarkan pada survei terhadap ribuan warga miskin perkotaan baik laki-laki maupun perempuan di sembilan negara berkembang dan terungkap bahwa hampir semua perempuan dan laki- laki memiliki ponsel, namun perempuan memiliki kemungkinan 50% lebih rendah untuk mengakses internet dibandingkan laki-laki di komunitas yang sama, dan hanya 37% perempuan yang disurvei mengaku menggunakan internet.

Bahkan, perempuan yang telah mengakses internet, memiliki kemungkinan 30-50% lebih rendah dibanding laki-laki untuk menggunakan internet dalam rangka meningkatkan penghasilan mereka atau berpartisipasi di ranah publik.

Berikut sejumlah temuan mengejutkan yang terdapat di Jakarta:
● Kurang dari 30% pengguna internet perempuan menggunakan internet untuk mencari informasi penting tentang hak mereka (hak kesehatan, reproduksi, dan hukum).
● Separuh pengguna internet perempuan telah menggunakan internet untuk mencari kerja, dan internet berpotensi besar untuk membantu pemberdayaan ekonomi perempuan.
● Platform online paling populer bagi perempuan maupun laki-laki adalah Facebook, namun sebagian besar pengguna internet tidak pernah membuka tautan (link) ke website atau platform lain yang disediakan.

Wakil Direktur ICT Watch Widuri mengatakan, masih panjang jalan yang harus ditempuh sebelum seluruh masyarakat Indonesia bisa memanfaatkan potensi TIK secara maksimal. Jalan tersebut bahkan lebih panjang bagi anak perempuan dan perempuan warga penghasilan rendah di kota.

"Di Indonesia, belum ada kebijakan TIK, maupun rencana pita lebar nasional, yang menyebutkan secara khusus tentang gender atau promosi akses perempuan kepada internet dan TIK,” lanjutnya dalam keterangan tertulis, Kamis (22/10/2015).

Ditegaskan pula oleh WIduri bahwa pemerintah diharapkan dapat menerapkan target-target konkret untuk akses perempuan terhadap Internet dan TIK. “Pemerintah perlu terus meningkatkan inisiatif pendidikan publik untuk meningkatkan literasi digital melalui program-program pelatihan dan pembangunan kapasitas,” tandasnya.

(ash/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed