Meski jadi pendatang baru di layanan ojek digital, Blu-Jek mengaku kebanjiran pelamar. Namun untuk bergabung, ada seleksi ketat yang harus dilalui. Bahkan tak sedikit yang gagal.
Menurut keterangan pihak Blu-Jek, dari batch pertama rekrutmen yang telah diilakukannya, terdapat sekitar 5.000 pelamar yang ingin join. Namun setelah diseleksi lebih lanjut, hanya 1.000 orang yang lolos dan akhirnya mengikuti training untuk menjadi rider Blu-Jek.
"Jadi animo pendaftar banyak banget. Tak cuma dari kalangan tukang ojek pangkalan. Orang biasa (kantoran-red.) juga ada. Sebenarnya fleksibel, karena aplikasi dinyalakan saat keluar rumah," jelas Blu-Jek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Seperti orang melamar kerja biasanya, psikotes lalu kelayakan pengemudi dan kendaraan. Tes kelayakan ini ada bagian-bagiannya tersendiri," lanjutnya.
Blu-Jek sendiri sudah resmi mengaspal pada Kamis (18/9/2015) kemarin dengan kekuatan armada 1.000 rider dari batch pertama. Sampai akhir tahun target Blu-Jek adalah lima batch, jadi total mereka memiliki 5.000 armada Blu-Jak sampai Desember 2015.
"Sampai saat ini kami masih melakukan rekrutmen, sampai target di akhir tahun," kata pihak Blu-Jek.
Jika dibandingkan dengan layanan ojek digital lain, Blu-Jek tak ingin dipandang sebagai persaingan. Lantaran visi misi mereka sama dan punya harapan untuk memberikan solusi baru dalam sarana transportasi di Indonesia.
"Kita tak merasa berkompetisi, jadi menghadirkan pilihan baru. Lagi pula kita merasa dengan banyaknya warga jakarta, mal saja ada 15 kali ya di Jakarta dan ramai. Jadi bukan kompetisi kita bilang, paling tidak Indonesia bisa semakin maju, dan kita berusaha memberikan yang terbaik dengan memberikan layanan dan inovasi yang mempermudah," Blu-Jek menandaskan.
(ash/fyk)