Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Adu Ketahanan di Timur Tengah, Siapa Kehabisan Rudal Lebih Dulu?

Adu Ketahanan di Timur Tengah, Siapa Kehabisan Rudal Lebih Dulu?


Fino Yurio Kristo - detikInet

Rudal Iran hantam Tel Aviv, Israel (dok.AFP)
Adu Ketahanan di Timur Tengah, Siapa Kehabisan Rudal Lebih Dulu? Foto: AFP
Jakarta -

Hasil dan durasi peperangan di Timur Tengah mungkin akan ditentukan berdasarkan persediaan drone dan rudal Iran dibanding amunisi pertahanan udara Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Teluk. Iran dan proksi-proksinya berupaya melawan serangan gabungan AS dan Israel dengan lebih dari 1.000 serangan terhadap target di hampir selusin negara.

Jangkauan geografis dari serangan balasan Iran menjadikan konflik ini terluas di Timur Tengah sejak Perang Dunia Kedua. AS dan Israel berupaya menghancurkan sebanyak mungkin cadangan rudal dan infrastruktur Iran, menargetkan berbagai peluncur, tempat penyimpanan, dan personel militer.

Stacie Pettyjohn, direktur Center for a New American Security, menilai konflik ini menjadi 'kompetisi salvo', yaitu aksi saling tembak secara serentak dalam jumlah besar menggunakan senjata berpemandu presisi. Menurutnya, pertanyaannya adalah siapa yang memiliki cadangan senjata lebih besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Serangan Iran ke Israel, di mana 11 orang tewas dan lebih dari 100 terluka sejak perang dimulai, jadi kurang intens dalam 36 jam terakhir. Analis menilai Iran mungkin berusaha mempertahankan cadangan rudal dan menyerang secara efektif.

Strategi Teheran mungkin adalah coba melemahkan musuh dengan meruntuhkan moral warga dan meningkatkan beban finansial. Tal Inbar, peneliti Missile Defence Advisory Alliance, menyebut jika satu rudal saja menghantam fasilitas vital seperti universitas, rumah sakit, atau pembangkit listrik, kerugiannya bisa sangat besar.

Semua pihak yang terlibat dalam konflik berusaha menenangkan warga. Uni Emirat Arab (UEA) mengeluarkan pernyataan untuk membantah laporan mulai kehabisan rudal pencegat. UEA mengklaim menghancurkan 161 dari 174 rudal balistik yang diluncurkan ke sana. Dari total 689 drone Iran, 645 berhasil dicegat.

Serangan Iran juga diluncurkan ke situs militer AS dan infrastruktur sipil di Qatar, Abu Dhabi, Kuwait, Irak, Bahrain, dan Oman. Beberapa hotel internasional di Dubai dilaporkan terkena serangan. Infrastruktur minyak mengalami kerusakan di Arab Saudi.

Qatar pun mengeluarkan pernyataan serupa tentang keberhasilan mereka mendeteksi dan mencegat sebagian besar target udara. Kementerian pertahanan Qatar menyatakan telah menembak jatuh dua jet tempur Iran, tiga rudal jelajah, 98 dari 101 rudal balistik, dan 24 dari 39 drone.

Kelly Grieco, analis Stimson Center di Washington, mengatakan sulit mengetahui persediaan senjata di Teluk, tapi negara-negara tersebut menghabiskan amunisi sangat cepat dan segera harus mengambil keputusan fasilitas mana yang harus diprioritaskan.

Dikutip detikINET dari Guardian, pihak Iran mengetahuinya dan itu sebabnya rentetan tembakan mereka tidak begitu besar karena bertujuan untuk menjaga serangan terus berjalan.

Pettyjohn memperingatkan bahwa jika cadangan pertahanan udara habis, itu mungkin akan mendorong Israel dan AS menghentikan serangan dan mencoba mencapai semacam penyelesaian melalui negosiasi. Di sisi lain, jika Iran kehabisan rudal, mereka mungkin terpaksa meminta damai.



(fyk/afr)




Hide Ads