Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Jelang Jakarta Running Festival 2026, Ada Data Menarik Pelari Indonesia

Jelang Jakarta Running Festival 2026, Ada Data Menarik Pelari Indonesia


Agus Tri Haryanto - detikInet

Strava Indonesia
Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET
Jakarta -

Menjelang Jakarta Running Festival (JRF) 2026, Strava mengungkap sejumlah data menarik mengenai kebiasaan pelari Indonesia dalam edisi tahun lalu.

Terungkap bahwa 92% peserta JRF 2025 tercatat menjadi bagian dari Strava Club, memperlihatkan kuatnya peran komunitas dalam aktivitas lari di Tanah Air.

Country Lead Strava Brazil and Southeast Asia, Rosana Fortes, mengatakan budaya berolahraga bersama menjadi salah satu hal yang menonjol dari pengguna Strava di Indonesia. Disampaikannya, pengguna tidak hanya berlari untuk mengejar target pribadi, tetapi juga aktif berbagi aktivitas dan mendapatkan dukungan dari komunitas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Orang Indonesia suka menginspirasi orang lain, seperti berbagi aktivitas untuk menginspirasi komunitas," ujar Rosana dalam wawancara bersama awak media di Jakarta, Jumat (23/10/2026).

ADVERTISEMENT

Rosana mengatakan pengguna Strava di Indonesia memiliki kecenderungan untuk bergabung dengan berbagai komunitas olahraga, mulai dari lari, renang, hingga triathlon. Hal ini membuat aktivitas olahraga tidak hanya menjadi kegiatan individual, tetapi juga ruang untuk membangun koneksi dan saling memberikan motivasi.

"Anda tidak seperti seorang atlet solo. Anda suka bersama orang lain, mendapatkan energi dan dukungan tambahan untuk terus mendorong diri sendiri," tuturnya.

Keterlibatan Strava dalam JRF 2025 juga memperlihatkan besarnya antusiasme pelari terhadap aktivitas berbasis komunitas. Pada gelaran tahun lalu, Strava mengadakan tantangan segmen yang diikuti hampir 30 ribu orang.

Rosana mengatakan partisipasi tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana pengguna memanfaatkan Strava untuk terlibat dalam kegiatan olahraga bersama.

Pengalaman pada JRF 2025 kemudian menjadi salah satu konteks bagi Strava untuk kembali hadir di gelaran tahun ini. Dalam wawancara tersebut, Rosana menyoroti perkembangan komunitas lari dan keberadaan berbagai brand lokal yang semakin terlihat dalam ekosistem olahraga Indonesia.

Rosana menilai kolaborasi antara komunitas, kreator, dan brand menjadi bagian menarik dari perkembangan budaya olahraga di Indonesia.

Selain tren komunitas, Strava pun melihat pengguna di Indonesia dan Asia Tenggara semakin banyak mengombinasikan beberapa jenis olahraga. Aktivitas lari kini kerap dilengkapi latihan kekuatan, Pilates, hingga jalan kaki.

Rosana menyebut bahwa tren tersebut menarik karena pengguna tidak hanya mengidentifikasi diri melalui satu jenis olahraga, tetapi mulai menjalani berbagai aktivitas untuk menjaga kebugaran.

Perubahan ini turut mendorong Strava mengembangkan fitur yang mendukung aktivitas di luar lari, termasuk fitur muscle map untuk melihat kelompok otot yang dilatih serta latihan kekuatan terpandu.

Meski demikian, Rosana mengatakan pengguna tidak harus memiliki smartwatch untuk mengikuti tutorial latihan kekuatan di Strava. Perangkat yang terhubung dapat memberikan data tambahan, tetapi pengguna tetap bisa mengikuti panduan latihan melalui aplikasi.

"Orang Indonesia suka menginspirasi orang lain dengan membagikan aktivitas mereka kepada komunitas. Ini menjadi salah satu hal yang luar biasa dari pengguna Strava di Indonesia," pungkasnya.



(agt/agt)




Hide Ads