Kepala Departemen Microfilm Perpusnas Baghdad, Mazin Ibrahim Ismail, mengatakan proses digitalisasi dokumen tidak tersedia segera untuk umum. Melainkan untuk memastikan semua koleksi tersebut tetap bertahan dari segala ancaman di masa depan.
Saking pentingnya, warisan sejarah dan budaya tersebut kerap dianggap sebagai harta karun tak ternilai. Sehingga sangat layak untuk dijaga keberadaannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah selesai merestorasi dokumen tua dari era Ottoman. Kami akan mulai memotret mereka ke mikrofilm," ujar Ismail seperti dikutip dari Center Daily, Rabu (5/8/2015).
Proses restorasi dokumen sendiri bukan perkara mudah. Apalagi bila usianya telah mencapai ratusan tahun, seperti dokumen dari Ottoman tadi. Dikatakan oleh Fatma Khudar, pegawai senior bagian restorasi, prosesnya memeperlukan penanganan khusus.
"Kami melakukan penguapan menggunakan alat khusus unuk memisahkan halaman yang menempel.Terkadang kami menerapkan metode yang berbeda-beda pada setiap suatu halaman di sebuah buku," ujarnya.
(ash/ash)