Menurut William Tanuwijaya, CEO sekaligus pendiri Tokopedia, dukungan pemerintah di ketiga negara begitu besar sehingga memajukan bisnis e-commerce.
"Di China memiliki Alibaba, Amerika punya Amazon, Google dan Facebook. India memiliki Flipkart, Inmobi dan Snapdeal. Sementara Indonesia belum memiliki satupun perusahaan yang angkanya di atas USD 1 miliar," ujarnya di Forum Usulan Roadmap E-Commerce Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lewat regulasi ini terciptalah berbagai inovasi, seperti eBay, YouTube dan seterusnya. Regulasi DMCA melindungi bukan pada konsumen tapi melindungi terjadinya inovasi. Dimana melindungi kekebalan atas pemilik platform.
"Bisa dibayangkan misalnya, YouTube didirikan oleh mahasiswa. Para pendiri tentu tidak pernah berpikir bila nantinya ada yang upload mengenai video ISIS atau video dewasa. Mereka tidak berpikir soal negatif, tapi hal positif. Nah, hebatnya Bill Clinton memfokuskan perlindungan pada hal positif tersebut," tutur bos Tokopedia ini.
Menurut William, setiap peraturan pasti ada pro dan kontra. Pun demikian DMCA yang tidak disukai para perusahaan besar di Hollywood. Mereka melawan dengan Stop Online Piracy Act (SOPA). Setiap pergantian presiden lima tahun sekali, mereka terus memperjuangkan SOPA. Tapi hingga saat ini, tidak sedikitpun dunia internet Amerika berubah.
Di China, pemerintahnya memang begitu protektif hingga memfilter akses situs dari luar. Namun pemerintah negara Tirai Bambu ini mampu memaksa investasi asing untuk masuk ke sana.
"Dengan nilai ratusan juta dolar yang masuk ke China, mereka bisa menarik kembali para enginer yang berkuliah di Amerika atau di manapun untuk kembali ke Tanah Air mereka, membangun lapangan pekerjaan. Tidak hanya membangun startup teknologinya, tapi mampu membangun jutaan lapangan kerja lain," tutur William.
Alibaba sendiri, kata William, tidak lepas dari masalah. Hingga saat ini, Alibaba belum terbebas dari produk palsu. Sang CEO, Jack MA, terus dicecar akan masalah ini.
"Hebatnya, pemerintah China sendiri seperti tutup mata hal tersebut karena fokus mereka lebih bagaimana membangun lapangan kerja terlebih dulu. Bila sudah tercapai, barulah mungkin pemalsuan masuk menjadi fokus mereka," tuturnya.
India patut pula menjadi contoh bagi Indonesia. Selama puluhan tahun, Negara Anak Benua ini dikenal sebagai destinasi dari outsource. "Mau call center atau riset & development murah, ke India saja," kata William.
Saat ini engineer menjadi salah satu pekerjaan terhormat di India. Para orang tua saling berlomba menyekolahkan anaknya untuk menjadi insinyur komputer. Perdana Menteri India Narendra Modi menyadari betul potensi negaranya yang tidak kekurangan talenta. Karenanya ia berusaha mengajak banyak investor asing agar bisa meningkatkan jumlah entrepreneur lokal yang bersaing global. Hasilnya pun sudah terlihat.
"Amazon sudah membuka kantor di India. Mereka mengucurkan miliaran dolar di sana. Terbaru adalah Softbank yang telah berkomitmen berinvestasi sebanyak Rp 130 triliun," terang William.
Indonesia patut pula bercermin dari Korea Selatan. Di negeri Ginseng ini, banyak perusahan teknologi berdiri. Kata William, ini tidak terlepas dari upaya pemerintah Korsel yang getol membangun infrastruktur saat mereka terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2002.
Pemerintah ingin berita dari Korea dapat menyebar ke seluruh dunia dengan cepat. Investasi besar-besaran mereka kucurkan untuk infrastruktur internet. Dan hasilnya sekarang, mereka menjadi negara dengan penetrasi internet paling di dunia. Tak hanya soal akses, tapi juga soal kecepatan.
Lantas bagaimana Indonesia? William berpendapat nantinya Indonesia akan bisa memiliki 'Alibaba-Alibaba' seperti di China. Sebab negara kita tidak kekurangan entrepreneur layaknya India. Hanya kini berharap pada pemerintah yang makin mendukung pertumbuhan e-commerce di Tanah Air.
"Saya percaya the power of kepepet yang membuat orang kita jadi entreprenuer. Harapannya tinggal kita memiliki pemimpin yang visioner dan pemerintah dengan regulasinya mendukung perkembangan e-commerce," tutup pria yang pernah menghabiskan hari-harinya sebagai penjaga warnet tersebut.
(ash/ash)