Akibat peretasan itu, banyak pria pengguna Tinder yang tertipu. Yaitu mengira bahwa mereka sedang bercakap-cakap atau bahkan sedang menggoda wanita, padahal mereka sedang chatting dengan sesama pria.
Pelakunya adalah seorang programer asal California, Amerika Serikat, yang mengakali application programming interface (API) Tinder. Dengan begitu ia bisa menipu sistem Tinder, untuk 'menjodohkan' dua penggunanya sesuai profil, tanpa memperhatikan jenis kelaminnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini bukan pertama kalinya Tinder diretas, sebelumnya pada tahun 2013 aplikasi ini juga mempunyai sebuah lubang keamanan yang terbuka lebar. Lubang keamanan tersebut membuat lokasi penggunanya bisa terungkap, dan bisa digunakan oleh pihak tak bertanggung jawab.
Ada juga seorang peretas yang bisa membuat aplikasi Tinder-nya untuk memberi tanda 'like' ke setiap wanita yang ada di sekitarnya, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Jumat (27/3/2015).
(asj/ash)