Rudiantara mengungkapkan bahwa ia merupakan orang yang tidak bisa diajak menunggu, terutama untuk urusan pekerjaan. Jadi ketika anak buahnya telah berani melontarkan suatu target pekerjaan, bakal ditagih terus oleh sang menteri.
Hal ini pula yang coba digalakkan Chief RA -- begitu ia biasa disapa -- kepada pegawai Kominfo. Tak ada itu gaya kerja ABS alias asal bapak senang, dimana saat ditanyakan siap laksanakan, tetapi pelaksanaannya nihil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Misalnya) kata mereka jam 12 sudah selesai. Ya sudah, saya jam 11 sudah datang. Bukannya saya mau ngerecokin atau apa, tapi pak, ibu, ada masalah gak? Jadi kita datang ke sana, kalau ada masalahnya kasih tahu, kita bisa selesaikan gak? Jadi jam 12 bisa selesai gak? Kalau gak, saya di bawah ekspektasi saya sendiri. Jadi saya lebih banyak datangi mereka," lanjutnya.
Rudiantara memang bukan seorang birokrat karir. Sebaliknya, ia datang dari kalangan profesional. Pria kelahiran Bogor itu sempat berkarir di Indosat, Telkom, XL, Semen Gresik hingga PLN. Alhasil, gaya kerjanya juga tak bisa bertele-tele.
"Saya memang dari dulu orangnya begitu, waktu di korporasi juga memang begitu. Saya gak bisa menunggu atau apa. Mungkin itu dipengaruhi oleh bos saya, style-nya memang begitu. Jadi kalau dibuatkan konsep revolusi mental yang seperti apa, nggak nggak. Saya ajak alur begitu saja".
"Karena kan saya sudah punya kebiasaan, punya attitude, punya insting, punya feeling, ya itu saja saya coba ajak. 'Jungkir balik' ya 'jungkir balik'. Teman-teman ngerasa sudah ada yang ngeluh. Saya pulang jam 10. Kebanyakan jam 10 jam 11 baru pulang," lanjutnya, panjang lebar.
Sang istri pun sampai mengingatkan Rudiantara soal gaya kerjanya yang dianggap kelewat keras. Namun ia menilai hal itu tak masalah, tinggal diatur saja pola kerjanya, mau diatur sistem piket atau gimana.
"Saya fleksibel saja, mau ada satu kelompok yang dua hari atau gimana, sampai jadwal driver saya atur juga. Karena kan kalau ngikutin saya gempor juga. Mereka kasihan, karena jam kerjanya lebih panjang dari saya. Mereka harus jemput saya ke rumah sebelum saya bekerja, dan mereka baru bisa pulang ke rumah setelah nganterin saya. Jadi kasihan," pungkasnya.
(ash/ash)