Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Pornografi & Judi Online, Senjatanya Perang Cyber

Pornografi & Judi Online, Senjatanya Perang Cyber


- detikInet

Ilustrasi (Ist.)
Jakarta -

Pemblokiran pornografi dan judi online tidak bisa dianggap sepele. Pasalnya, selain ditunggangi oleh malware, kedua situs bermuatan negatif ini juga bisa menjadi senjata untuk perang antar negara lewat dunia maya.

Trafik malware di Indonesia kian menjadi-jadi. Salah satu pemicu utamanya adalah masuknya malware dari beragam konten porno dan judi online yang marak tersebar di internet.

Malware tersebut seringkali membuat jaringan internet dan komputer kita jadi lelet karena secara otomatis sering meminta akses membuka sebuah domain tertentu yang sebenarnya tidak ada alias non-existence domain.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dan itu jumlahnya jutaan memenuhi jaringan kita dan membuat jaringan down. Non-existence domain itu serangan, dan itu perangnya antar negara. Penyusupannya dari pornografi dan judi online," kata Andi Budimansyah, Ketua Umum Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) kepada detikINET, Senin (17/11/2014).

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Wakil Ketua Internet Security Incident Responses Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) M Salahuddien. Menurutnya, sudah banyak malware yang mencoba masuk ke Indonesia lewat pintu pornografi dan judi online.

"Dan kita tidak boleh naif kalau menganggap itu bukan designing (oleh negara musuh)," kata pria yang akrab disapa dengan panggilan Didin Pataka ini.

Menurut Didin, problem penyusupan malware lewat akses pornografi dan judi online ini bukan hanya diderita oleh Indonesia saja, tapi juga oleh negara-negara lain.

"Itu bukan hanya problem Indonesia saja, karena di regional Asia Pasifik kita sudah tandatangan kesepakatan bersama bahwa kita akan perang dengan malware ini. Namanya cyber clean initiatives," tuturnya.

Inisiatif untuk memerangi malware ini juga tengah digagas oleh Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) dan Asia Pacific Network Information Centre (APNIC).

Rencananya, permasalahan ini juga akan dibahas di Asia Pacific Regional Internet Conference on Operational Technologies (APRICOT) di Fukuoka, Jepang, pada Februari 2015 mendatang.

Menurut Sylvia Sumarlin, Ketua Umum Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII) pembahasan soal malware yang bisa memicu perang cyber dan terorisme ini memang tinggi tingkat urgensinya. "2015 itu tahun genting," pungkasnya.

(rou/ash)






Hide Ads