Bapak Internet Dunia Puji Indonesia

Bapak Internet Dunia Puji Indonesia

- detikInet
Senin, 08 Sep 2014 12:10 WIB
Istanbul -

Vinton Gray 'Vint' Cerf, salah satu bapak Internet dunia, tak sungkan-sungkan memuji Indonesia dalam hal tata kelola Internet yang melibatkan dialog seluruh pemangku kepentingan (multi-stakeholder).

Pujian ini disampaikan Vint Cerf dalam pertemuan bilateral antara delegasi Indonesia Internet Governance Forum (ID-IGF) dengan sejumlah tokoh Internet dunia, di Istanbul, Turki, di sela-sela pelaksanaan Global IGF 2014.

"Indonesia dapat menjadi model bagi kawasan tentang bagaimana mendorong pelibatan multi-stakeholder untuk tata kelola Internet," kata Vint Cerf.

Dialog multi-stakeholder merupakan pendekatan yang kini semakin luas diadopsi di berbagai negara di dunia, ketika sebuah kebijakan atau regulasi tertentu didiskusikan dan dirumuskan bersama oleh berbagai pihak, khususnya dari unsur pemerintah, bisnis, masyarakat sipil, akademisi dan komunitas teknis.

Vint Cerf yang juga Chief Internet Evangelist Google, menilai bahwa inisiasi dan proses Indonesia dalam dialog tata kelola Internet patut untuk ditularkan ke sejumlah negara tetangga.

"Apa yang telah dilakukan Indonesia (dalam formulasi ID-IGF) secara umum telah melampaui apa yang telah dilakukan oleh negara lain," puji Vint Cerf.

Untuk itulah maka Vint Cerf pun mendorong agar ID-IGF kemudian berani mengambil inisiatif dialog lebih luas lagi, tidak sekedar untuk Indonesia saja, tetapi juga untuk di kawasan regional.

Apresiasi komunitas Internet global sebagaimana telah disampaikan di atas, tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri bagi ID-IGF.

"Pengakuan dunia terhadap proses yang tengah dirintis oleh ID-IGF, menjadi kepercayaan dan amanah untuk terus mendorong proses tata kelola Internet di Indonesia menjadi lebih transparan, akuntabel dan profesional," ujar Andi Budimansyah, Chair ID-IGF, yang juga Ketua Umum Pengelola Nama Domain Indonesia (PANDI).

Apa yang telah dicapai oleh ID-IGF, menurut Shita Laksmi mewakili Indonesia CSOs Network for Internet Governance (ID-CONFIG), adalah sebuah proses awal yang masih perlu didorong secara berkelanjutan.

"Untuk itulah maka ID-IGF ataupun institusi yang terlibat didalamnya, akan terus menjalankan sejumlah kegiatan untuk meningkatkan pemahaman dan meluaskan keterlibatan berbagai pihak dalam berbagai dialog tata kelola Internet di Indonesia," demikian Shita, dari Hivos Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Informatika pun meyakini bahwa format dialog yang diusung oleh ID-IGF perlu terus dikembangkan.

"ID-IGF adalah medium dialog yang baik bagi berbagai pihak, termasuk pemerintah, untuk saling membuka diri dan mendiskusikan tantangan maupun peluang atas tata kelola Internet di Indonesia," kata Mariam F Barata, Sekretaris Jenderal Direktorat Jenderal Aplikasi dan Informatika, Kementerian Kominfo.

Ditegaskan pula oleh Mariam, bahwa ID-IGF dapat menjadi salah satu contoh yang baik tentang bagaimana dialog multi-stakeholder dapat dilakukan untuk mendapatkan solusi atas suatu dinamika kebijakan dan kepentingan publik.

Salah satu institusi yang cukup sentral dalam tata kelola Internet Indonesia, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), menyatakan pencapaian ID-IGF sebagaimana yang telah Vint Cerf katakan, adalah cambuk untuk menjadi lebih baik ke depannya.

"Tentu saja ID-IGF, dengan APJII di dalamnya, bersama dengan pemangku kepentingan lainnya dalam ID-IGF Indonesia, akan terus berupaya dalam rangka meningkatkan penetrasi dan kualitas internet Indonesia," tandas Sapto Anggoro, Sekretaris Jenderal APJII.

Keberadaan ID-IGF sebagai salah satu fasilitator dialog tata kelola Internet di Indonesia, juga mendapatkan catatan khusus dari Jovan Kurbalija, Founder Director Diplo Foundation. "Menghadirkan mult-stakeholder dalam dialog tata kelola Internet, seperti yang dilakukan oleh ID-IGF, adalah sesuatu yang luar biasa!" tegasnya.

Penulis buku 'An Introduction to Internet Governance' yang telah diterjemahkan ke 10 bahasa utama dunia, termasuk bahasa Indonesia, dan telah menjadi rujukan penting tentang tata kelola Internet tersebut, pun memberikan apresiasi atas gagasan ID-IGF melakukan kegiatan pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang memahami tata kelola Internet.

"Indonesia memiliki pengalaman yang sangat menarik dalam pengembangan kapasitas SDM-nya, dengan memanfaatkan (Indonesia) IGF sebagai pemantik proses (dialog)," tandas Jovan.

Dalam kesempatan pertemuan dengan delegasi Indonesia tersebut, selain Vint Cerf, juga turut diikuti oleh Patric Ryan, Public Policy for Free Expression Google. Shita Laksmi kemudian menutup sesi pertemuan bilateral tersebut dengan memaparkan sejumlah program ID-IGF ke depannya.

Tiga besar program yang menjadi prioritas ID-IGF ke depannya, sebagaimana dipaparkan Shita, adalah peningkatan kapasitas dan pemahaman para pemangku kepentingan tentang tata kelola Internet, pelibatan semakin banyak pihak-pihak untuk melakukan diskusi yang berkualitas dan bermakna, serta penguatan institusi ID-IGF itu sendiri sebagai sebuah platform diskusi.

(rou/rns)