Tantangan selanjutnya bagi perusahaan adalah mencari makna yang lebih dalam dan lebih jauh dari social media, apa yang bisa diberikan social media terhadap bisnis.
Β
Jawabannya terletak pada kemampuan mengolah dan memanfaatkan keseluruhan data yang dimiliki perusahaan, atau yang belakangan ini sering disebut dengan istilah Big Data (mencakup data-data dari social media salah satunya).
Hidup kita akan dibanjiri dengan data, dan data ini hanya akan semakin membesar. Perusahaan-perusahaan di luar sudah menyadari hal ini, dibutuhkan kecerdasan yang terintegrasi untuk membuat semua data ini bermakna dan menyumbangkan hasil kepada perusahaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data yang mengalir mulai dari data transaksi finansial dan interaksi dengan pelanggan yang kini bisa datang dari berbagai point serta berbagai perangkat (device).
Pada saat yang sama mesin-mesin mengumpulkan data operasional, bagian marketing mengolah data dari social media atau menggunakan data lokasi dari ponsel-ponsel pintar untuk memahami pola belanja anak remaja.
Pertukaran data juga terjadi dengan mitra bisnis dalam rantai penyediaan barang, sementara pada saat yang sama para karyawan bertukar pengetahuan dalam jejaring sosial internal perusahaan.
Semua data ini adalah harta karun bagi perusahaan. Tantangan perusahaan adalah menggali harta karun itu dengan kecerdasan analytical yang luar biasa sehingga dapat menghasilkan inovasi-inovasi bisnis yang tepat.
Posisi riset atau Data Scientist di beberapa perusahaan besar telah ditempatkan di tempat-tempat paling strategis di sisi CEO untuk memungkinkan hal tersebut.
Untuk memulai memberi makna pada data-data di tangan kita, setidaknya semua data itu dapat digunakan untuk 3 tujuan berikut, yang menjadi inti dari bisnis.
1. Meningkatkan Sales
Belum pernah ada sebelumnya masa di mana perusahaan diberkahi dengan begitu banyak data yang diberikan konsumennya dengan suka rela, seperti: apa yang saya sukai, siapa yang saya sukai, bagaimana perasaan saya, di mana saya berada, bersama siapa saya, apa yang telah saya beli, dan apa yang akan saya beli.
Data-data ini bila digunakan dengan tepat tentu saja dapat menyumbang pada peningkatan layanan maupun penciptaan produk-produk baru yang disukai konsumen.
McDonaldβs contohnya, perusahaan waralaba makanan siap saji ini melengkapi beberapa tokonya dengan peralatan yang mengumpulkan data operasional sambil menelusuri interaksi konsumen, lalu lintas di dalam toko, serta pola pemesanan. Data-data ini memberi gambaran dampak variasi pada menu, design restoran, dan training pada produktivitas dan sales.
2.Β Customer Relation
Pada hari ulang tahun saya kemarin, saya mendapat beberapa ucapan dari brand. Beberapa memang adalah brand yang saya gunakan. Bagaimana mereka mendapatkan data saya?
Ini adalah bagian dari Customer Relationship Management (CRM). Memelihara hubungan dengan customer jauh setelah transaksi terjadi memberikan banyak benefit kepada perusahaan, salah satunya adalah membina loyalitas terhadap brand dan meningkatkan pembelian ulang.
Di era big data ini, CRM semakin menantang. Data yang dapat diperoleh dari konsumen semakin luas. Facebook misalnya, telah mengambil salah satu beban hidup kita untuk mengingat-ingat hari ulang tahun teman.
Belum lagi data hobi, minat, tempat yang disukai, idola, dan lain-lain yang membuat brand dapat semakin intim mengenal dan membangun hubungan dengan konsumennya.
Semakin lengket hubungan brand dengan konsumen juga memungkinkan interaksi antara konsumen dengan konsumen. Hal ini menunjukkan tingkat engagement dengan brand yang sangat tinggi, di mana konsumen kita akan menjadi salah satu pembela brand di tengah konsumen yang lain.
3. Β Employee Relation
Satu hal yang sering terlupakan oleh banyak perusahaan, adalah asetnya yang paling berharga, yaitu karyawan. Engagement karyawan yang tinggi bagi banyak perusahaan bagaikan cawan suci.
Mendapatkan karyawan yang terlibat penuh pada pekerjaan (engaged) adalah tujuan sebagian besar program HR. Karyawan yang engaged akan bekerja dengan sepenuh hati, dan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Mereka juga tidak mudah tergoda untuk pindah ke perusahaan lain apabila ada tawaran.
Biasanya perusahaan melakukan survei engagement setiap tahun untuk mengukur tingkat engagement karyawan tersebut. Kini di era big data, data tentang kepuasan maupun ketidakpuasan karyawan sebenarnya bertebaran di mana-mana. Tinggal bagaimana perusahaan mau memungut dan memperhatikan keluhan-keluhan kecil ini, sebelum menjadi besar.
Departemen HR yang pandai mengelola data ini dapat melakukan inovasi-inovasi dalam kondisi tempat kerja maupun program-program HR lain (termasuk merancang program benefit) yang meningkatkan kepuasan kerja dan produktivitas.
Walaupun ada isu privasi dan etika, kebesaran big data tidak bisa dihentikan. Para pakar percaya, ini baru permulaan. Menurut McKinsey Quarterly kustomisasi besar-besaran, percobaan secara terus-menerus oleh perusahaan, dan model-model bisnis baru akan mewarnai kompetisi bisnis di era banjir data ini.
Nah pertanyaannya adalah, apakah Anda sudah siap?
![]() | Tentang Penulis: Meisia Chandra merupakan Direktur PortalHR.com, trainer & konsultan social media for employee, strategi digital, & e-commerce. Yang bersangkutan bisa dihubungi via Twitter di @mei168. |
