Orang pintar sering diibaratkan memiliki lebih dari lima indra. Demikian juga dengan smart city alias kota pintar, bisa diasosiasikan kota ini memiliki sensor yang banyak.
"Dengan banyaknya sensor dipasang di setiap sudut kota, kalau ada banjir, gempa, persitiwa pencurian jadi tahu. Kalau ada inefisiensi energi tahu, ada lampu menyala tidak terpakai otomatis dimatikan," papar penggiat smart city dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Suhono Harso Supangkat.
Sebagai salah satu elemen infrastruktur teknologi smart city, pemasangan sensor ini bisa menjadi tantangan pembangunan kota pintara. Tak hanya itu, belum adanya standarisasi juga menjadi salah satu kendala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tantangan lainnya, dikatakan dosen sekaligus Chairman Institute for Innovation and Entrepreneurship Development ITB ini, Indonesia sedikit terkendala untuk urusan perangkat.
"Kalau device itu Indonesia boleh dikatakan nggak ada. Akhirnya kita beli, berkolaborasi dengan device provider luar negeri, kita desain untuk kepentingan Indonesia," ujarnya.
Meski smart city terbilang barang baru di Indonesia, namun implementasinya diam-diam sudah dimulai. Sejumlah faktor dikatakan Suhono akan mendorong implementasi ini.
"Pengetahuan masyarakat dan teknologi yang semakin berkembang, serta tata kelola publik, government, industri dan proses bisnis yang sesuai," ujarnya.
Masih menurut Suhono, dukungan dari pemerintah pun sudah tampak. Mulai 2013, dikatakannya mereka akan menganggarkan untuk riset mengenai smart city. Bappeda yang wilayahnya akan dijadikan pilot project smart city pun sudah memperlihatkan dukungan.
"Memang belum banyak tapi mereka sudah tertarik. Tahun depan mulai survei melihat requirement, 2014 prototyping di lingkup kecil dan 2015 mulai go live perlahan-lahan," paparnya.
Tak kalah penting, dalam mewujudkan smart city juga perlu diperhatikan kesiapan masyarakat menyambut konsep ini. Itu sebabnya, dikatakan pria berkacamata ini sangat penting untuk berpikir dalam kerangka ekosistem.
"Jadi tak hanya teknologi oriented. Kita harus pikirkan manajemen bagaimana interaksi itu dengan masyarakat, harus kita siapkan warganya," tandas Suhono.
(/)