Berebut Pengaruh Lewat Peta Online

Apple Maps vs Google Maps

Berebut Pengaruh Lewat Peta Online

- detikInet
Kamis, 11 Okt 2012 12:18 WIB
Salah satu error di Apple Maps (Ist.)
Jakarta - Dunia para pengguna perangkat selular sempat ramai dengan berbagai perbincangan saat Apple mengeluarkan sistem operasi terkini yang diberi nama iOS 6. Setelah cukup lama menjaga versi 5 dengan berbagai varian, pada bulan September 2012, Apple akhirnya mengluarkan versi baru yang ditunggu-tunggu banyak orang. Peluncuran iOS ini bersamaan dengan dihadirkannya iPhone 5 ke masyarakat luas.

Seperti diklaim oleh Apple, iOS 6 adalah sebuah revolusi dengan berbagai macam revisi dan peningkatan dibandingkan versi sebelumnya. Yang menarik dan kemudian menjadi bahan perbincangan adalah hadirnya peta asli buatan Apple yang terintegrasi dengan iOS 6. Sebut saja Apple Maps.

Hadirnya Apple Maps ini adalah perubahan signifikan karena sebelumnya Apple menggunakan Google Maps untuk solusi pemetaan di sistem operasinya. Karena terintegrasi dengan sistem operasi, banyak pengguna bahkan mungkin tidak sadar bahwa peta yang digunakan Apple sebelumnya sesungguhnya berasal dari pihak ketiga yaitu Google.

Yang menarik dan cenderung mengejutkan secara negatif adalah banyak fitur pada Apple Maps tidak sebagus pendahulunya, Google Maps. Pengguna yang tidak begitu peduli dengan pergantian dari Google Maps ke Apple Maps ini melihat satu persoalan sederhana: peta pada iOS kini mengalami penurunan kualitas.

Mereka yang sudah sangat nyaman dengan Google Maps di iOS sebelumnya dibuat terkejut dan kecewa ketika peta yang baru, Apple Maps, bahkan tidak bisa melakukan fungsi sederhana yang sebelumnya sudah menjadi hal biasa.

Saudara saya, misalnya, bahkan tidak bisa menemukan lokasi kampusnya di Bali dengan fitur pencarian di Apple Maps. Hal ini sangat mengganggu karena fitur ini adalah hal biasa pada Google Maps yang dipakai Apple sebelumnya.

Kawan lain mengemukakan Apple Maps memberikan petunjuk arah yang salah atau tidak efektif di kawasan Denpasar dan sekitarnya. Hasil membaca di berbagai media bahkan menunjukkan hal yang lebih parah, Apple Maps menampilkan kesalahan lokasi daratan yang tertukar dengan lautan.

Ada juga yang memberitakan Apple Maps bahkan membuat lokasi bandara yang pada kenyataannya tidak ada. Bagi yang tergantung hidupnya dengan peta, kesalahan ini bisa berakibat fatal.

Yang cukup menggelikan sekaligus serius adalah Apple Maps menampilkan sebuah pulau yang disengketakan oleh China dan Jepang sebagai dua pulau. Artinya, Apple Maps seakan-akan membuat satu pulau masing-masing untuk Jepang dan China.

Sebuah berita menyatakan bahwa kekacauan pada Apple Maps justru bisa menyelesaikan sengketa kedaulatan antara China dan Jepang. Tentu saja komentar ini bersifat kelakar yang sarkastik bagi Apple Maps.

Dalam bahasa awam, fenomena Apple Maps ini bisa dianalogikan dengan pembuatan motor baru. Bayangkanlah di tahun 2012 ada perusahaan mengeluarkan motor jenis baru dan semua orang antusias mencoba menggunakannya.

Ketika digunakan untuk membonceng seseorang, motor itu rusak dan tidak kuat. Saat dibahas, ternyata motor baru ini belum siap digunakan untuk membonceng penumpang karena pembuatnya adalah pemula dalam produksi motor.

Singkatnya, pengguna dihadapkan pada sebuah produk baru yang tidak bisa melakukan fungsi yang sesungguhnya merupakan fungsi biasa pada produk sejenis lainnya yang lebih dulu ada. Dengan analogi ini, tidak sulit memahami kekecewaan pengguna. Bayangkanlah kalau pengguna diminta untuk menerima ketidaksempurnaan macam ini, tentu tidak banyak dari mereka yang akan rela memaklumi.

Kenapa Harus Peta Online?

Jika sudah ada produk lain seperti Google Maps, mengapa Apple harus bersusah payah membuat sistem pemetaan sendiri? Jika sudah ada produk lain yang siap dipakai dan memuaskan pengguna, mengapa harus mengambil risiko membuat produk baru dengan fungsi yang sama? Ini pasti menjadi pertanyaan banyak orang.

Sebuah artikel di TechHive menjelaskan dengan cukup gamblang persoalan ini. Ada dugaan bahwa persaingan dengan Google yang melatarbelakangi keputusan ini. Bisa jadi benar tetapi jika demikian, Apple bisa saja mengganti Google dengan Bing Maps milik Microsoft. Toh itu tidak dilakukan, artinya ada alasan lain.

Alasan sesungguhnya bisa jadi adalah perihal kendali atas data. Pemakaian peta online oleh pengguna sesungguhnya menjadi ajang mengumpulan data perilaku pengguna dalam kaitannya dengan lokasi geografis.

Secara tidak langsung, penggunaan peta berarti menginformasikan lokasi geografis seorang pengguna kepada pemilik peta online. Dengan mengetahui lokasi geografis pengguna maka dimungkinkan untuk menawarkan produk atau layanan lain yang berbasis geografis.

Bayangkan ketika mendekati sebuah restoran siap saji, kita tiba-tiba mendapat pesan teks di telepon seluler terkait penawaran paket makanan. Potensi bisnis dengan mengetahui lokasi ini menjadi sangat besar.

Apple rupanya tidak ingin potensi ini dimonopoli oleh Google. Dengan kata lain, Apple sendiri memiliki kepentingan untuk mengoleksi data perilaku pemakainya terkait aktivitas dan pergerakan secara geografis. Penguasaan data ini tentu memiliki potensi besar untuk banyak tujuan di masa depan.

Pada akhirnya, memberikan layanan peta bertujuan untuk memperkuat pengaruh untuk kepentingan bisnis. Peta menjadi salah satu alat menguatkan pengaruh ini karena pada dasarnya semua aktivitas manusia mengandung unsur lokasi.

Merekam lokasi berarti merekam unsur penting dari perilaku manusia. Maka tidak heran jika ini memiliki kekuatan besar untuk memperbesar pengaruh bisnis.

Seperti diakui banyak pakar, membuat layanan pemetaan sendiri tentu tidak mudah. Apple memang tidak akan bisa bersaing dengan Google Maps atau Bing Maps dalam waktu semalam. Meski demikian, apa yang dilakukan Apple sesungguhnya adalah mempersiapkan sebuah strategi untuk memenangkan persaingan sengit di masa depan.

Apple tidak bisa tutup mata bahwa usahanya memperbesar pengaruh bisnis ini bisa saja menjadi senjata makan tuan jika tidak digarap dengan serius. Para pecinta Apple rupanya harus sabar untuk membiarkan Apple memperbaiki layanannya dan menoleransi berbagai kesalahan yang mungkin masih akan terjadi sebelum mencapai kualitas yang diharapkan.


*) Penulis, I Made Andi Arsana merupakan dosen Teknik Geodesi dan Geomatika di Universitas Gadjah Mada (UGM). Saat ini, ia juga kandidat S3 di Universitas Wollongong, Australia.

(ash/ash)