Bulan September tahun 2011 mungkin menjadi masa-masa kelam bagi mantan CEO Yahoo Carol Bartz. Setelah menakhodai Yahoo selama 30 bulan, eksekutif wanita 63 tahun itu dicongkel dari posisinya sebagai CEO dengan cara yang tidak mengenakkan, yakni dipecat melalui sambungan telepon.
"Saya sangat sedih untuk mengabarkan bahwa saya baru saja dipecat melalui sambungan telepon oleh Chairman of the Board Yahoo. Merupakan suatu kebanggaan bagi saya untuk dapat bekerja dengan kalian semua. Saya doakan kalian terus sukses di masa depan," tulis Bartz dalam memo terakhirnya kepada karyawan Yahoo, kala itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selepas dari Bartz, Yahoo kemudian menunjuk Scott Thompson sebagai CEO baru pada Januari 2012. Sudah bisa ditebak, Thompson awalnya begitu dieluk-elukan dapat membawa Yahoo kembali berjaya dalam persaingannnya dengan Google.
Terlebih sebelumnya, pria 54 tahun ini punya prestasi mentereng sebagai presiden PayPal dan juga disebut-sebut sebagai kunci penting dalam meroketnya eBay.
Sayang, kiprah Thompson di Yahoo ternyata cuma seumur jagung. Pria berkumis ini diterpa skandal pemalsuan gelar sarjana yang berdampak sangat fatal. Hingga melengserkan Thompson dari kursi CEO raksasa internet itu pada pertengahan Mei 2012.
Seperti diketahui, Thompson awalnya mengklaim memiliki gelar sarjana akuntansi dan ilmu komputer dari Stonehill College. Namun menurut Dan Loeb -- pendiri Third Point sekaligus salah satu investor Yahoo -- Thompson sejatinya hanya memegang gelar sarjana akuntansi, dan itulah kenyataannya.
Tentu saja kejadian ini membuat banyak investor kecewa. Thompson pun sejatinya telah menyatakan permohonan maaf dan menyatakan penyesalan mendalam.
"Kita semua telah bekerja sangat keras memajukan perusahaan, dan masalah ini tentunya akan berdampak sebaliknya. Untuk itu, saya bertanggung jawab sepenuhnya, dan saya memohon maaf kepada Anda sekalian," demikian isi email yang dikirim Thompson.
Sembari menunggu CEO baru, Yahoo kemudian menunjuk Ross Levinsohn yang merupakan mantan Executive Vice President Yahoo regional Amerika sebagai pimpinan sementara alias CEO ad interim.
Sampai pada akhirnya, dipilihlah Marissa Mayer sebagai CEO baru Yahoo. Wanita cantik ini sebelumnya adalah top executive Google. Meski baru berumur 37 tahun ia sudah mengisi sejumlah posisi penting di raksasa internet tersebut.
Di antaranya mengepalai sederet product manager di Google dan bertanggung jawab terhadap tampilan simpel di halaman utama Google Search, Gmail, Google News serta Google Image.
Mayer sendiri awalnya berkarir sebagai engineer. Ia bahkan disebut-sebut sebagai karyawan nomor 20 Google, dan telah bergabung selama 13 tahun.
"Saya telah mengalami waktu yang menakjubkan selama di Google," ujar Mayer dalam sebuah sesi interview.
"Namun ini (menerima pinangan Yahoo-red.) merupakan keputusan yang cukup mudah dan masuk akal. Yahoo merupakan salah satu brand terbaik di internet," lanjutnya.
Kini, tugas berat tengah menanti wanita cantik tersebut. Seperti diketahui, Mayer pastinya akan dituntut untuk kembali melonjakkan pamor Yahoo yang sempat meredup lantaran tergencet dalam persaingan bisnis internet.
"Saya sangat menantikan untuk bekerja dengan para karyawan Yahoo yang berdedikasi untuk menciptakan inovatif produk, konten, dan pengalaman yang menakjubkan bagi user dan pengiklan di seluruh dunia," lanjut Mayer.
Analis pun percaya bahwa Mayer akan sukses di Yahoo. Terlebih dengan pengalaman dan prestasinya yang mentereng selama berkiprah di Google.
"Banyak orang pasti tak percaya jika Yahoo bisa mendapatkan sosok sekaliber Marissa Mayer untuk menjadi CEO dalam kondisi seperti ini," pungkas analis dari Standard & Poor's, Scott Kessler, dilansir Reuters.
(ash/rns)