"Digital forensik pun punya musuh, anti forensik. Ini adalah teknik untuk mengelabui digital forensik," kata Ketua Digital Analyst Team (DFAT) Puslabfor Bareskrim Polri Muhammad Nuh AlâAzhar di Depok, Senin (18/6/2012).
Dikatakannya, mereka yang terjun ke dunia anti forensik memahami empat kunci untuk melawan digital forensik. Yakni memahami enkripsi, bagaimana menyembunyikan informasi, menghapusnya secara sempurna dan mengetahui seluk-beluk teknik hacking.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika sesorang mengerti anti forensik, menurutnya, dalam hitungan detik, bukti digital bisa hilang. Meski demikian, dia dan timnya selama ini selalu berpikiran optimistis bahwa tidak ada kejahatan yang sempurna.
"Kita kerahkan cara bagaimana mengungkapnya. Bukan berarti gampang, memang ada kalanya tidak mudah. Kasus yang lumayan bisa njelimet sampai berhari-hari," ujarnya.
Nuh mengklaim sejauh ini setiap kasus yang melibatkan barang bukti digital yang ditangani timnya masih bisa ditangani dengan digital forensik. Ini bisa jadi merupakan keuntungan dari masih minimnya pengetahuan orang di Indonesia dalam anti forensik
Meski demikian, dia tak lantas bersombong diri. Menurutnya, analis digital forensik sendiri jangan menjadi jumawa. "Di atas langit masih ada langit. Tapi no crime is perfect. Pasti ada yang bisa kita lacak. Tinggal bagaimana kompetisi digital forensik investigator menanganinya," simpulnya.
(rns/ash)